Archive for November, 2007
Senang mendapat Gratis-an
Mencermati pembagian tabung gas dan kompor bagi rakyat yang kurang mampu, saya ingin sedikit menuliskan uneg-uneg saya.
Sungguh memprihatinkan kondisi bangsa kita saat ini…jumlah rakyat miskin bertambah, tapi ironisnya dijalan juga jumlah mobil mewah bertambah.
Yang membuat saya lebih kagum lagi banyak rakyat kita yang ’senang dengan barang Gratis’ apakah itu benar-benar menjadi hak nya atau bukan….’yang penting GRATIS’
Demikian pula yag terjadi dengan pembagian tabung gas dan kompor baru-baru ini. Saya nggak tahu apakah ini kesengajaan atau yang bersangkutan tidak punya malu…’yang penting dapat gratis…’
Saya ambil contoh di tempat saya….saat pendaftaran untuk pembagian gas ketua RT saya keliling dan mendaftarkan semua warganya, termasuk keluarga saya, namun kami menolak saat itu, dalam hati kami berfikir apa tidak salah kalo warga di RT kami mendapat subsidi tabung dan kompor gas, kami yakin warga di tempat kami mampu membelinya, karena harga mobil dan rumah yang lebih mahal saja kebeli….namun kami berfikir lagi, berusaha berfikir positif mungkin memang jatah yang dibagikan banyak jadinya yang banyak pula yang kebagian. Atau barangkali juga kriteria miskin di negeri ini sudah berubah, yang sudah mampu beli rumah dan mobil pun masih dianggap miskin…
Yang unik…setelah kami menolak didaftarkan ada orang yang berniat memakai nama kami supaya jatah masih bisa didapat…setengah marah saya menolaknya…hingga orang tersebut tersipu malu….
Beberapa waktu lalu setelah tabung dan kompor diterima warga RT kami, saya sempat bertanya kepada warga kampung sekitar…dan yang membuat saya kaget ternyata banyak sekali warga yang tidak kebagian jatah tabung dan kompor gas ini…sama persis saat kejadian waktu pembagian subsidi BBM…banyak rakyat miskin yang tidak mendapatkan namun banyak juga keluarga kaya yang menikmati….
Hanya satu yang dibenak saya….ternyata bangsa kita ini punya budaya yang cukup bagus, selain dikenal cukup ramah dan pemurah juga ternyata punya sifat yang senang dengan barang gratisan….makanya tidak heran jika banyak penipu yang sukses melalui telpon, sms dan lainnya dengan iming-iming hadiah mobil, uang atau pemberian gratis lainnya.
Itulah kenyataan potret negeri ini….banyak sekali yang masih rela bersenang-senang walaupun yang lain harus menderita karenanya….tak mengherankan jika tingkat korupsi pun semakin tinggi.
Hmm…hanya doa dan harap yang bisa saya perbuat…mudah-mudahan banyak orang yang sadar dan mengerti bahwa nggak semua yang GRATIS itu bagus….kadangkala Gratis itu perlu dipikirkan terlebih dahulu..apakah ada hak orang lain disana…benarkah kita ber hak atas yang Gratis itu…adakah yang dirugikan dari barang Gratis yang kita terima itu…
Semoga……
Add comment November 30, 2007
What You Want to be?
Siang itu….lagu Barney “what you want to be” mengalun dari VCD yang diputer anak saya, sementara anak saya mengikutinya sambil menari-nari. Saya pun ikut menari bersamanya untuk menciptakan suasana gembira padanya, hingga lagu tersebut selesai.
“Bunda nanti Icha mau jadi dokter….sekarang kita main dokter-dokteran ya….”lalu dia mengambil kotak peralatn dokter dan boneka-boneka yang dijadikan pasien dan kami pun asyik bermain peran dokter, dan saya menceritakan bagaimana menjadi seorang dokter yang sholeh yang rela membantu pasien dengan tulus karena Alloh, bukan hanya karena mengejar materi semata.
Entah kenapa malam harinya tiba-tiba pikiran saya terusik, teringat kata-kata “what you want to be” seolah Alloh menegur saya…mengingatkan saya….Sejauh ini diri tlah melangkah..sekian lama diri tlah mengenyam kehidupan….tapi seolah diri blom tahu apa yang sebenarnya tujuan hidup ini…akan menjadi apa 1 tahun ke depan….5 tahun ke depan…..atau bahkan diakhir usia nanti…
Teringat berapa banyak dosa yang telah diperbuat….teringat pula betapa sedikit amal sholeh yang sudah dilakukan….tiba-tiba terdiam diri ini….tunduk malu padaNya…
“What you want to be….” syair lagu yang mengingatkan saya…mampukah diri ini berbuat lebih baik lagi…lebih banyak berbagi…lebih banyak memberi manfaat…? Sementara diri ini belum menjadi apa-apa, belum menjadi siapa pun….dan waktu pun terus bergulir….menuju hari yang telah ditentukan..
Hanya diri kita yang tahu apa yang sudah kita persiapkan….akan menjadi apa dan siapa kita nanti…Sesungguhnya hari ini adalah rangkaian peristiwa yang akan mewarnai kehidupan kita di masa mendatang…
Mempersiapkan diri untuk menjadi apa atau siapa di 1 tahun atau 5 tahun mendatang bukan perkara yang mudah, harus dipersiapkan dari sekarang.
Banyak yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan semuanya, dengan harapan kehidupan kita akan menjadi lebih baik lagi. Hanya kita yang tahu kemana akan kita arahkan perahu kehidupan kita. InsyaAlloh tidak ada perjuangan yang sia-sia. What you want to be?
Add comment November 30, 2007
Mendidik Anak Ayam atau Elang?
Beberapa waktu lalu saya mendengar “The Indonesian Strong From Home” yang inti temanya menggelitik saya sampai saat ini, “Mendidik anak ayam atau elang”. Pada bahasan tersebut ayah edy kurang lebih menuturkan bahwa pada suatu hari ada seorang pemburu yang berhasil menangkap seekor elang yang sedang bertengger di atas pohon, namun sangat disayangkan ternyata elang tersebut sedang mengerami dua buah telurnya. Sang pemburu jadi sedih melihat hal tersebut, lalu memutuskan untuk membawa pulang elang yang telah meninggal dan telurnya. Sesampai rumah elang tersebut batal dijadikan santapan, dengan sedih dia kuburkan, namun dia masih sedih memikirkan bagaimana nasib kedua telur elang tersebut. Kemudian dia mendapati seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya juga, lalu dia memutuskan untuk menempatkan telur tersebut supaya ikut dierami oleh ayam tersebut. Waktu berganti tibalah saat anak ayam mulai menetas, demikian pula sang elang yang dititipkan menetas dan menjadi dua ekor elang kecil. Induk ayam tersebut kemudian mengasuh anak-anaknya, termasuk kedua ekor elang kecil tersebut, walaupun wajah kedua ekor elang tersebut kehilatan berbeda dengan anak ayam yang lain, wajahnya terlihat lebih tegas dan juga kaki-kakinya kokoh.
Suatu hari induk ayam mengajak anak-anaknya untuk mencari makanan, mereka mengorek-ngorek sisa makanan di tanah. Rupanya anak-anak elang itu kurang menyukai aktifitas itu, mereka melompat-lompat dan berusaha terbang, kemudian anak elang itu bertanya….”Bu…..bisakah saya terbang seperti burung-burung itu?” induk pun menjawab..”sudahlah…kamu ini hanya anak ayam, mana mungkin bisa terbang, nggak usah macem-macem deh… ayo kita cari aja lagi makanan” Mendengar jawaban itu anak elang menjadi sedih. Tiba-tiba datanglah seekor elang yang mendekat….maka anak-anak ayam beserta induknya pun pergi bersembunyi kecuali kedua ekor anak elang. Setelah hinggap kemudian elang itu bertanya…”kemana teman-temanmu semua?” Anak-anak ayam itu menjawab ” pada sembunyi Om…mereka takut”
“Lalu kenapa kamu tidak ikutan sembunyi seperti mereka?” tanya elang
“Justru saya ingin bertanya pada Om….bisakah saya terbang tinggi seperti Om elang?”
Sejenak elang besar itu mengamati…lalu berkata….”Tentu kamu bisa….kamu punya dua sayap yang kuat…punya bulu-bulu yang indah…dan yang lebih penting lagi…kamu punya nyali dan kemauan yang kuat”
Lalu kedua elang kecil itupun belajar pada elang yang ditemuinya…jatuh dan jatuh lagi….mencoba dan mencoba lagi….hinggi elang kecil itu bisa terbang tinggi…mencari makan ditempat-tempat yang jauh…dan bertengger di gedung yang begitu tinggi…
Cerita diatas sungguh menggelitik pemikiran saya, saat ini jutaan pengangguran di negeri ini, tak sedikit diantaranya adalah alumni perguruan tinggi. Begitu ada lowongan PNS maka banyak sekali yang berebutan untuk melamar. Tapi sungguh sedikit dari mereka yang berinisiatif untuk menciptakan peluang, atau kreatifitas yang lain….sungguh sayang sekali padahal potensi yang dimiliki cukup besar. Apakah ini karena sistem pendidikan kita yang masih baru bisa menciptakan anak-anak ayam? bukan elang yang mampu bertengger di gedung-gedung yang tinggi di seluruh dunia, atau karena faktor lain?
Saatnya para orang tua dan guru untuk memikirkan ini semua, supaya putra putri kita mampu menjadi generasi elang yang begitu tangguh dan kuat dalam menghadapi segala situasi dan mampu terbang ke seluruh dunia mencari penghidupan, bukan sekedar generasi anak ayam yang hanya mampu mencari makan dengan mengorek-ngorek kotoran di sekitarnya.
Add comment November 28, 2007
Bunda Luar Biasa

Alhamdulillah telah terbit buku ‘Bunda Luar Biasa’
Sebuah buku yang dirancang bagi mereka yang ingin terampil dalam bekerja, berbisnis dan pengasuhan anak.
Lengkap dengan situs-situs wirausaha, daftar alamat sumber permodalan, ide-ide usaha pilihan dan daftar waralaba dibawah 100 juta.
Sangat cocok bagi yang ingin memulai maupun yang sudah terjun langsung di dunia wirausaha terutama bagi mereka yang ingin sukses bekerja dan berbisnis.
Dapatkan buku perdana dan book signing dari penulis di Stand Mizan, Indonesian Book Fair Balai Sidang Senayan.
Beli dan Buktikan bahwa Anda Luar Biasa !!
-Bunda Luar Biasa-
Sukses Berbisnis dan Bekerja
oleh Ahmad Gozali dan Sulis
kata Pengantar Ratih Sang
only Rp. 27.500
Apa kata mereka tentang buku ini?
Simple, Praktis dan wajib bagi istri-istri yang ingin membentuk keuangan keluarga dengan terjun ke dunia bisnis
- Valentino Dinsi-
Penulis Best Seller Jangan Mau Seumur Hidup Jadi orang Gajian-
“Buku penting dan wajib bagi wanita. Sangat bermanfaat untuk pria bertanggung jawab”
-Tung Desem Waringin-
Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia (versi Majalah Marketing) Penulis buku Terlaris Rekor MURI Financial Revolution
Mau menjadi bunda yang kreatif dan produktif? Ingin menjadi Bunda yang mahir berbisnis? Nah, baca saja buku yang sarat dengan perbaikan kualitas diri. Bukan Buku Biasa….!
-Pipiet Senja-
Novelis Indonesia
2 comments November 16, 2007
Usaha paling TOP dan menguntungkan
Habis meeting urusan SOX yang cukup melelahkan saya makan siang dengan boss saya …biasa kita ngobrol ngalor ngidul seputar project SOX…nggak lama kemudian datang kawan boss yang kebetulan satu milis dengan saya, ikut gabung makan siang di kantin.
Beliau tanya ke saya ” kemarin ke halal bi halal TDA ngga?” Saya bilang ngga bisa hadir karena ada urusan lain. Topik obrolan pun menjadi berubah karena beliau ini menceritakan ingin memulai bisnis anthurium, yang saat ini lagi marak harganya mencuat tinggi. Yang lucu beliau ini malah tanya-tanya ke saya seluk beluk bisnis tanaman ini. “Wah…saya ngga punya ilmu banyak Pak tentang hal ini….jawab saya spontan” Saya hanya kasih sedikit advise, kalau baru akan mulai sekarang dan mengejar harga sangat tinggi sedangkan beliau belum punya persiapan sama sekali termasuk pengetahuan dan seluk beluk tentang bisnis ini kemungkinan berhasilnya kecil, kecuali beliau bisa menggandeng dan kerjasama dengan orang yang tahu banyak akan bisnis ini.
Mendengar perkataan saya beliau ragu lagi, langsung bertanya lagi…”wah kalau begitu usaha apa yang paling menguntungkan saat ini?”
“Maaf Pak sebelumnya…tanpa mengurangi rasa hormat saya dan bukan berarti sok pinter, kalau Bapak bicara saat ini…Bapak sudah pada posisi yang benar, yaitu anthurium, untungnya bisa puluhan juta….tapi itu saat ini. Kenapa saya garis bawahi kata-kata saat ini, karena bisa jadi dalam 1 tahun ke depan harga anthurium sudah anjlok dan ngga tinggi seperti sekarang. Tergantung waktunya pak…Nah daripada pusing memikirkan apa yang paling top saat ini, lebih baik Bapak memulai dari sekarang….apapun yang Bapak kuasai, yang Bapak minati dan yang tentunya yang bisa Bapak jalankan sambil bekerja.
Karena yang namanya usaha bukan hanya sekedar jiplak saja…bukan sekedar ATM ( amati tiru modifikasi) saja…tapi kita harus punya ilmu-ilmu yang terkait untuk menjalankan usaha tersebut “
“Tapi saya sudah pernah mencoba dan gagal…” kata sPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0i Bapak menyela.
” Loh….kegagalan itu proses, dan bukan berartiPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0 kegagalan itu jelek, karena dari kegagalan itu kitPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0a bisa belajar banyak ilmu…nggak ada loh Pak sekolah khusus jurusan kegagalan di negeri ini…so Bapak bisa belajar dari kegagalan tersebut, dan juga kegagalan orang lain di sekitar Bapak. Kalo sudah tahu titik-titik penyebab gagalnya jangan diulangi lagi supaya ngga jatuh di lubang yang sama. Menurut saya tidak benar jika kita menyebut sebagai kegagalan, tapi alangkah lebih baik jika kita anggap itu adalah proses menuju keberhasilan, kita anggap sebagai sekolah kehidupan”
Waktu pun mulai bergerak mendekati jam 13.00 sehingga kami harus mengakhiri obrolan tersebut untuk kembali kerja…tapi saya sempat bertanya lagi ” Jadi bagaimana Pak…apakah masih mau bisnis anthurium atau mau coba yang memang benar-benar Bapak kuasai dan minati?” Si Bapak hanya tersenyum….satu doa saya dalam hati untuknya…semoga di langkahnya kali ini dipertimbangkan lebih matang dan menemui keberhasilan. Selamat berjuang Pak..
Add comment November 9, 2007
Anak pun punya rasa Cemburu
Akhir-akhir ini buah hati saya sangat suka dengan prakarya dari kain flanel dan Dua hari yang lalu saya berjanji untuk sampai rumah lebih cepat dan akan membuat karya baru dari kain flanel dan clay buatan sendiri. Kesenangannya itu sangat saya dukung untuk pengembangan kreatifitasnya. Sudah beberapa hasil karya yang dibuat, bantal mini buatannya sendiri, boneka kecil, tempelan kulkas dan beberapa jenis buah-buahan. Saya kebagian memotong pola dan menjahit, sedangkan putri saya bagian menempel lem dan memasukkan dacron.
Aktifitas yang mengasyikkan ini kami mulai sejak liburan lebaran kemarin dan rupanya sangat disukai.
Dua hari yang lalu dia punya ide membuat caterpilar mini untuk tempelan kulkas, ide ini dia dapatkan dari buku karya Eric Carley yang sempat dibeli di Kinokuniya beberapa waktu lalu. Tanpa pikir panjang saya pun meng- iya kan kemauan anak saya dan berjanji untuk pulang tepat waktu keesokan harinya supaya bisa lebih lama bermain.Esok harinya seperti biasa saya berangkat kerja, hari itu saya harus bertemu dengan vendor, dan rupanya meeting baru bisa diselesaikan pukul 17.00. Ups…saya sudah terlambat 1 jam dari jam pulang biasanya. Buru-buru saya telpon anak saya dan minta maaf, karena saya telat pulang, benar saja…dia sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan dijadikan prakarya. Alhamdulillah anak saya memaklumi dan memaafkan saya. Sisi lain hati saya sebenarnya merasa nggak enak …namun itu konsekuensi saya sebagai karyawan yang harus menyelesaikan tugas kantor. Hujan rintik menyertai perjalanan dan hari itu lalu lintas Jakarta benar-benar macet…..hampir 2 jam berada dalam perjalanan….
Sampai rumah saya disambut dengan pelukan dan cerita bahwa pePOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0rsiapan pembuatan prakarya sudah siap.
Langsung saya bersihkan badan dan temani anak saya bermain sesuai kesepakatan, namun tiba-tiba telpon saya berdering, putri salah seorang sahabat harus dititipkan ke saya. Akhirnya malam itu kami main bertiga bersama anak sahabat saya. Semuanya berjalan lancar hingga mereka semua tertidur.Keesokan harinya saya mulai rutinitas seperti biasana, saya bangunkan anak-anak untuk sholat dan saya menyiapkan segalanya untuk berangkat kerja. Alhamdulillah semuanya lancar. Saat saya di kantor tiba-tiba anak saya telpon, menanyakan apakah malam nanti anak sahabat saya akan menginap lagi. Anak saya mengatakan, sebaiknya ngga…karena dia hanya pengin bermain dengan saya. Hmmm….saya sadar anak saya cemburu. Lalu saya beri pengertian dan semangat, bahwa anak teman saya hanya sementara…dan saya tekankan, walaupun main bersama, saya tetap akan memberikan porsi kasih sayang dan cinta padanya, dan saya pun berjanji untuk bermain berdua lebih lama lagi sebagai gantinya. Alhamdulillah dia kembali mengerti….
Seringkali kita orangtua tidak sadar kalau buah hati kita sedang cemburu, baik pada kesibukan kita, pada orang lain atau bahkan pada adiknya sendiri.
Pengungkapan rasa cemburu ini bisa bermacam-macam, kadang dengan marah-marah, dengan berbuat sesuatu yang menarik perhatian kita dan bahkan yang parah bisa jadi menyakiti orang yang dicemburuinya.
Sikap cemburu pada balita adalah wajar, karena di usianya, anak balita memang baru belajar melepaskan diri dari ketergantungan totalnya terhadap orangtua. Ia pun masih memerlukan rasa bahwa ia diterima. Ia belum mengenal konsep berbagi. “Ini milikku!” adalah teriakan yang sering terlontar dari balita untuk barang-barang yang dimilikinya termasuk diri kita. Disamping itu balita belum pandai mengekspresikan perasaan cemburu dengan kata-kata sehingga tak jarang tindakan dan sikap yang dilakukan akan menjadi cermin dari perasaan mereka.
Menyikapi kecemburuan anak sebagai orang tua sebaiknya bersikap bijaksana, dengan memberikan penjelasan sesuai penalaran anak, dan juga kesabaran.
Mengajarkan kemandirian pada anak sangat penting untuk menghilangkan perasaan cemburu ini, sehingga secara perlahan anak akan mengerti dan mampu bersikap tegas tanpa bantuan dan tanpa ketergantungan dari kita.
Selain kemandirian hal yang boleh dilupakan tentunya adalah sikap untuk saling berbagi. Menghilangkan ego anak dan karakter mulia untuk saling berbagi ini tidak cukup sekali atau dua kali, proses pengajaran dilakukan dengan ketekunan sehingga anak benar-benar mengerti kebaikan saling berbagi.
Satu lagi yang perlu ditekankan pada anak, yakinkan bahwa anak kita tidak akan kehilangan cinta kita dengan kehadiran orang lain. Ini akan membuat anak percaya diri dan belajar mengerti.
1 comment November 8, 2007
Cita-cita Mengubah Negeri
Ditengah banyaknya bencana di negeri ini dan gejolak politik yang tak menentu banyak bermunculan figur-figur yang ingin menonjolkan diri, ingin tampil dan dipandang masyarakat dengan tendensi tertentu, apakah ingin memenangkan pilkada, pemilu atau berbagai tendensi lainnya. Coba kalau kita amati, masing-masing calon gubernur, mereka pasti punya janji ingin merubah ini dan itu, memberantas kemiskinan, menghapus korupsi, dan janji-janji perubahan lainnya.
Usai pilihan gubernur banyak rakyat yang menunggu realisasi dari janji-janji perubahan itu, namun apakah semua janji itu akan terpenuhi?
Kebanyakan dari kita punya cita-cita yang sangat mulia, punya keinginan merubah kampungnya, merubah kabupatennya dan bahkan ingin merubah negeri tercinta ini menjadi lebih baik.
Namun sangat sayang jika cita-cita mulia itu hanya sekedar menjadi cita-cita, karena kita terlalu sibuk berfikir bagaimana mengubah orang lain, tapi kita lupa untuk mengubah diri sendiri. Coba kita bayangkan seseorang yang bercita-cita mulia ingin merubah keadaan negeri ini, dia terlalu sibuk memikirkan cara perubahan yang tepat, yang bisa dilakukan oleh semua rakyat negeri ini, namun karena kesibukan itu dia sendiri lupa terhadap dirinya, sehingga untuk mewujudkan rencananya itu dia terlibat korupsi, dan karena kesibukannya itu pula dia lupa memperhatikan keluarganya sehingga anak-anaknya pun terlibat pergaulan bebas dan narkoba. Naudzubillah…
Dan hasil akhir dari cita-citanya adalah NOL besar…
Dari manakah sesungguhnya datangnya perubahan itu?
Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri“. (Al-Qur’an, Surat Ar-Ra’d: 11)
Teringat kata-kata dari Aa Gym, 3M -mulai dari diri sendiri-mulai, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini.
Sadarkah tangan ini terlalu kecil untuk dapat merubah negeri yang penduduknya ratusan juta? Sadarkah ratusan juta itu memiliki pemikiran yang berbeda dengan kita? Mungkin kita sering lupa dengan itu semua, sehingga kita punya cita-cita yang angat mulia.
Saya tidak menyalahkan pemimpin atau calon pemimpin yang punya cita-cita mulia, justru memang harus punya cita-cita mulia. Karena pemimpin akan menjadi teladan dan panutan bagi seluruh rakyat
Namun…sedikit yang ingin saya coba sampaikan…Untuk apa ingin merubah negeri jika diri sendiri tidak dirubah? Logikanya sangat sederhana, bukankah salah satu metode pendidikan adalah dengan keteladanan, jika diri kita berubah InsyaAlloh orang lain akan melihat kita dan mengikuti kita, paling tidak anak-anak kita, keluarga kita akan mengikuti apa yang kita lakukan.
Rosul bisa menjadi pemimpin yang luar biasa karena keteladanan beliau, beliau tidak meminta orang lain mengikuti apa yang tidak beliau lakukan.
Lalu kenapa kita tidak memulai dari diri kita sendiri? Menjadi diri yang terbaik, menjadi teladan bagi buah hati kita, bagi keluarga kita….Jika setiap bunda…setiap ayah…melakukan yang terbaik dan menjadi teladan baik bagi putra putrinya, tanpa kita rubah pun InsyaAlloh potret negeri ini akan berubah.
Amin
Add comment November 6, 2007
Novelnya Olien
Tiba-tiba dua hari yang lalu status YM salah satu teman saya memberi kejutan…
Saya baru kenal dan bertemu Olien seminggu sebelum lebaran di MP Book Point, nggak nyangka kalau ternyata teman saya ini penulis Novel…luar biasa….disela kesibukannya bekerja Olien masih sempat menuliskan novel….saya jadi malu sekaligus terpacu….belum satu karyapun yang bisa saya sumbangkan, mudah-mudahan ini akan mampu memompa dan memacu semangat saya untuk selalu berkarya…
“Selamat ya Olien…semoga sukses dengan novelnya dan terus berkarya pantang menyerah….”
Sekilas cuplikan tentang novel TUNTUN AKU KEMBALI KE JALAN-MU buah karya Olien…
Mien adalah seorang anak jalanan. Yatim piatu. Miskin. Tak berpendidikan. Tetapi setelah suatu hari dia pingsan di tepi jalan, saat hujan mengguyur deras dan petir menyambar dahsyat, segalanya berubah. Tiba-tiba Mien dapat membaca pikiran dan memengaruhi orang lain. Tiba-tiba Mien dapat mempelajari segala sesuatu dengan hanya sekejap. Dan, Mien yang terheran-heran pun mulai memanfaatkan kelebihannya itu. Semaksimal mungkin. Tetapi, dia lupa mencari tahu apa makna di balik semua keajaiban itu. Sampai Mien tumbuh dewasa, menjadi seorang wanita karier yang sukses dan kaya, sampai saat itulah baru dia kembali teringat kepada Yang Satu. Hati dan jiwanya terasa hampa, dan dia pun memulai pencariannya. Dia kembali mengunjungi kehidupan lamanya, mencari orang-orang yang dulu pernah bermakna baginya. Dan, di saat ini pulalah dia bertemu dengan dua orang pria yang sama-sama menarik hatinya. Siapa sebenarnya dirinya? Apa sebenarnya yang ditugaskan Tuhan kepadanya? Dan, siapakah pria yang nanti akan mendampinginya?
Anda pecinta Novel? Silakan mampir ke toko buku terdekat dan dapatkan Novel terbaru karya Diana Caroline
1 comment November 6, 2007
Doa dan kemudahan
Sedikit saya ingin mengulas tentang doa ini, dari sudut pandang diri saya yang masih ammah…bukan dari segi agama karena pengetahuan saya yang masih rendah didalam hal ini. Latar belakang tulisan ini adalah saya melihat dan mengamati beberapa hal dalam kehidupan, terutama generasi kita saat ini, yang tidak sedikit yang dalam kehidupannya bermanja, tidak mau susah, maunya langsung instan kaya, tidak mau bekerja keras, sehingga tidak jarang timbul korupsi yang merajalela dan menyusahkan orang lain juga kejahatan-kejahatan yang dilatarbelakangi keinginan memiliki sesuatu yang tidak menjadi haknya.
Setiap hari kita berdoa….untuk orang tua kita…untuk anak kita…untuk keluarga, sanak, saudara, teman dan bahkan untuk orang lain…
Namun di dalam doa sering kali kita meminta kemudahan dan kemudahan, misalnya begini…”Ya Alloh berikan saya kemudahan dalam segala urusan”
Padahal kalo kita lihat kembali setiap jalan yang kita lalui tidak semuanya mudah…banyak jalan terjal, hambatan dan rintangan harus kita lalui dalam kehidupan, banyak masalah yang harus kita hadapi dan selesaikan.
Kalo saya analisa sebenarnya kita sering kali manja…minta dikasihani, dengan selalu meminta diberi kemudahan dalam setiap langkah, padahal Alloh sendiri telah berfirman bahwa manusia akan diberikan ujian untuk mencapai derajat keimanan, yang intinya tidak semua jalan mudah untuk dilalui.
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Boleh berdoa minta kemudahan, tapi alangkah baiknya jika doa dan permintaan kita dirubah, ganti dengan kata-kata penyemangat yang tidak terkesan manja, misalnya “Ya Alloh berikan saya kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi kehidupan” doa ini nuansanya pun akan menggugah kita berusaha untuk selalu tegar dan berjuang dalam setiap rintangan. Berbeda dengan doa pertama yang terkesan manja dan membuat kita pasrah.
Doa kita bisa jadi akan didengarkan oleh seluruh alam dan alam akan merespon doa kita dengan pancaran energinya, so..kita kembalikan lagi pada diri kita, sudah benarkah kita dalam berdoa?
Add comment November 6, 2007