MFI Tolak Sensor
February 11, 2008
listysan
Republika, 8 Februari 2008 MFI Tolak Sensor (MFI menilai sensor sebagai sebuah pelecehan terhadap sebuah karya). Saya berhenti sejenak dan membaca sebentar tulisan tersebut. Sedikit banyak sebagai orang tua saya prihatin, betapa tidak, saat ini saja banyak sekali film film yang sangat berpengaruh pada kepribadian anak, tidak jarang anak yang tingkah lakunya dan kebiasaanya mengikuti kebiasaan aktris sinetron yang digandrunginya. Tak hanya itu, mulai gaya busana sampe pola pikiran anak benar-benar teracuni dengan tontonan di televisi.
Habis smack down berlalu sekarang ini anak-anak banyak yang gandrung dengan Naruto…sampe bajupun harus Naruto.
Sinetron Entong termasuk yang menjadi panutan anak-anak…gaya bahasa dan polah tingkah anak pun teracuni oleh Entong, khayalan untuk mendapat keajaiban seperti Entong pun menghinggapi pola pikir anak-anak kita.
Benarkah ini mutlak tanggung jawab orang tua semata?
Pendidikan akan berhasil jika didukung oleh orang tua, sekolah dan lingkungan. Bagaimana pun juga lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk karakter-karakter putra putri kita. Namun jika MFI sudah menolak sensor kita sebagai orang tua harus extra hati-hati dengan tontonan anak-anak kita, terutama televisi. Karena bagaimanapun kita hidup punya rambu-rambu dan aturan, jika semua sudah dibebaskan apa bedanya dengan hidup di rimba belantara seperti binatang? Maukah kita disamakan dengan mereka ? Tentu saja tidak karena kita adalah manusia yang beradap…manusia berbudaya dan manusia yang mengakui kebenaran ajaran agama.
Entry Filed under: General
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
Fakhrurrozy | February 11, 2008 at 8:43 am
Benar Bu,
Sudah bukan berita baru lagi jika sebagian besar tayangan di televisi sangat tidak kondusif untuk membangun karakter pemirsanya. Namun bagaimanapun ini tidak terlepas dari lemah dan dilema kontrol aparat terkait menyangkut banyaknya kepentingan, terlebih majemuknya suku bangsa dan agama di indonesia. Jika tidak kita dapatkan kontrol yg baik dari pemerintah, maka kita sebagai pribadi lebih memegang peran utk memilih dan memutuskan apa yg akan menjadi tontonan atau bahkan meninggalkan tontonan [TV] tersebut sama sekali. Dan terlebih, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak kita untuk menimba ilmu, adab dan etika
Mohon maaf Bu, sekedar sharing pendapat. Alhamdulillah dan terima kasih atas kunjungannya ke tempat saya
listysan :
Pak Fahrur terimakasih telah berkunjung….
Terimakasih juga atas komentarnya…setuju dengan pendapat Bapak…
Wassalamu’alaikum
2.
Cabe Rawit | February 14, 2008 at 12:20 pm
Keliatannya akan selalu berbenturan antara pelaku bisnis penyiaran dan film dengan masyarakat pada umumnya, karena adanya kepentingan bisnis. Penolakan terhadap sensor karena mereka khawatir produksinya menjadi tidak layak jual… karena mereka menganggap trend adalah pasar potensial. Jika trendnya adalah kekerasan, pornografi atau gaya hidup metropolis, maka pelaku industri film termasuk insan perfileman akan memanfaatkannya tanpa peduli rambu-rambu nilai agama dan sosial.
listysan:
terimakasih cabe rawit..telah mampir…
Anda sangat benar bahwa banyak produk akan laku jika mengikuti trend…tapi alangkah baiknya jika banyak yang sadar jika untuk mengikuti trend tsb mengikuti rambu-rambu, ya ngga?
wass.
3.
spelunker | May 28, 2008 at 8:36 pm
spelunker says : I absolutely agree with this !