Posts filed under 'kids education'




Selamat….!!!

Barusan dapat email, bahwa buku Rich Kids akan segera terbit….

Ngga ada yang saya katakan kepada dua orang guru yang baik ini kecuali ucapan “Selamat….dan Terus berjuang untuk kemajuan anak Indonesia…InsyaAlloh tidak akan sia-sia…”
Memang sering kita memandang remeh terhadap soal pembelajaran keuangan terhadap anak walaupun pada kenyataannya sangat perlu…
Nah…dibuku ini dikupas tuntas bagaimana orang tua mengajarkan pendidikan finansial pada anak, InsyaAlloh sangat bermanfaat.

 Berikut tentang buku RichKids 

richkids.jpg

“RICH KIDS – Belajar Kaya Sejak Kecil”
Oleh: Ahmad Gozali dan Irawati Istadi
Diterbitkan oleh Pustaka Inti
Harga Rp.35.000

Mengajarkan keuangan untuk anak jelas nggak mudah.
Pertama, banyak dari kita sebagai orang tua yang tidak punya pengalaman ‘diajari’ oleh orang tua kita dulu. Ya maklum sajalah, dulu kan topik tentang uang seringkali dianggap masih tabu untuk dibicarakan, apalagi dengan anak.
Kedua, yang namanya anak-anak jelas beda dengan orang dewasa dalam memahami sesuatu. Nggak seperti orang dewasa yang bisa diajarkan hanya dengan sebuah penjelasan, kalau dengan anak-anak, jelas perlu trik khusus untuk mengajarkan sesuatu pada mereka.Buku ini – dengan bahasa yang lugas dan sederhana – bisa memberikan banyak trik, contoh kasus, dan pengalaman nyata tentang bagaimana mengajarkan keuangan untuk anak-anak. Apalagi buku ini ditulis oleh dua orang pakar di bidangnya masing-masing.Ahmad Gozali misalnya, adalah seorang perencana keuangan yang tidak perlu ditanya lagi
kemampuannya dalam memberikan teori dan kiat dalam mengelola uang. Kemudian Irawati Istadi, adalah seorang pakar pendidikan anak yang sudah banyak menulis buku laris tentang pendidikan anak, sehingga nggak sulit buat beliau untuk membagi trik tentang bagaimana mendidik anak dengan baik.

Kolaborasi keduanya sudah tidak perlu diragukan lagi: pastilah menghasilkan sebuah buku dengan sudut pandang yang lengkap: keuangan dan anak. Jadi jelas, buku ini layak untuk Anda baca, dan mudah untuk Anda terapkan.

Untuk pemesanan dan mendapat tanda tangan pengarang silakan hubungi :
Halimah Tussadia
021- 57998024 
email : halimah@perencanakeuangan.com 

Add comment February 21, 2008

Mendidik Anak Ayam atau Elang?

Beberapa waktu lalu saya mendengar “The Indonesian Strong From Home” yang inti temanya menggelitik saya sampai saat ini, “Mendidik anak ayam atau elang”. Pada bahasan tersebut ayah edy kurang lebih menuturkan bahwa pada suatu hari ada seorang pemburu yang berhasil menangkap seekor elang yang sedang bertengger di atas pohon, namun sangat disayangkan ternyata elang tersebut sedang mengerami dua buah telurnya. Sang pemburu jadi sedih melihat hal tersebut, lalu memutuskan untuk membawa pulang elang yang telah meninggal dan telurnya. Sesampai rumah elang tersebut batal dijadikan santapan, dengan sedih dia kuburkan, namun dia masih sedih memikirkan bagaimana nasib kedua telur elang tersebut. Kemudian dia mendapati seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya juga, lalu dia memutuskan untuk menempatkan telur tersebut supaya ikut dierami oleh ayam tersebut. Waktu berganti tibalah saat anak ayam mulai menetas, demikian pula sang elang yang dititipkan menetas dan menjadi dua ekor elang kecil. Induk ayam tersebut kemudian mengasuh anak-anaknya, termasuk kedua ekor elang kecil tersebut, walaupun wajah kedua ekor elang tersebut kehilatan berbeda dengan anak ayam yang lain, wajahnya terlihat lebih tegas dan juga kaki-kakinya kokoh.
Suatu hari induk ayam mengajak anak-anaknya untuk mencari makanan, mereka mengorek-ngorek sisa makanan di tanah. Rupanya anak-anak elang itu kurang menyukai aktifitas itu, mereka melompat-lompat dan berusaha terbang, kemudian anak elang itu bertanya….”Bu…..bisakah saya terbang seperti burung-burung itu?” induk pun menjawab..”sudahlah…kamu ini hanya anak ayam, mana mungkin bisa terbang, nggak usah macem-macem deh… ayo kita cari aja lagi makanan” Mendengar jawaban itu anak elang menjadi sedih. Tiba-tiba datanglah seekor elang yang mendekat….maka anak-anak ayam beserta induknya pun pergi bersembunyi kecuali kedua ekor anak elang. Setelah hinggap kemudian elang itu bertanya…”kemana teman-temanmu semua?” Anak-anak ayam itu menjawab ” pada sembunyi Om…mereka takut”
“Lalu kenapa kamu tidak ikutan sembunyi seperti mereka?” tanya elang
“Justru saya ingin bertanya pada Om….bisakah saya terbang tinggi seperti Om elang?”
Sejenak elang besar itu mengamati…lalu berkata….”Tentu kamu bisa….kamu punya dua sayap yang kuat…punya bulu-bulu yang indah…dan yang lebih penting lagi…kamu punya nyali dan kemauan yang kuat”
Lalu kedua elang kecil itupun belajar pada elang yang ditemuinya…jatuh dan jatuh lagi….mencoba dan mencoba lagi….hinggi elang kecil itu bisa terbang tinggi…mencari makan ditempat-tempat yang jauh…dan bertengger di gedung yang begitu tinggi…
Cerita diatas sungguh menggelitik pemikiran saya, saat ini jutaan pengangguran di negeri ini, tak sedikit diantaranya adalah alumni perguruan tinggi. Begitu ada lowongan PNS maka banyak sekali yang berebutan untuk melamar. Tapi sungguh sedikit dari mereka yang berinisiatif untuk menciptakan peluang, atau kreatifitas yang lain….sungguh sayang sekali padahal potensi yang dimiliki cukup besar.  Apakah ini karena sistem pendidikan kita yang masih baru bisa menciptakan anak-anak ayam? bukan elang yang mampu bertengger di gedung-gedung yang tinggi di seluruh dunia, atau karena faktor lain?
Saatnya para orang tua dan guru untuk memikirkan ini semua, supaya putra putri kita mampu menjadi generasi elang yang begitu tangguh dan kuat dalam menghadapi segala situasi dan mampu terbang ke seluruh dunia mencari penghidupan, bukan sekedar generasi anak ayam yang hanya mampu mencari makan dengan mengorek-ngorek kotoran di sekitarnya.

Add comment November 28, 2007

Bunda Luar Biasa

front.jpg

Alhamdulillah telah terbit buku ‘Bunda Luar Biasa’ 
Sebuah buku yang dirancang bagi mereka yang ingin terampil dalam bekerja, berbisnis dan pengasuhan anak.
Lengkap dengan situs-situs wirausaha, daftar alamat sumber permodalan, ide-ide usaha pilihan dan daftar waralaba dibawah 100 juta.
Sangat cocok bagi yang ingin memulai maupun yang sudah terjun langsung di dunia wirausaha terutama bagi mereka yang ingin sukses bekerja dan berbisnis.
Dapatkan buku perdana dan book signing dari penulis di Stand Mizan, Indonesian Book Fair Balai Sidang Senayan.
Beli dan Buktikan bahwa Anda Luar Biasa !!

 -Bunda Luar Biasa-
Sukses Berbisnis dan Bekerja
oleh Ahmad Gozali dan Sulis
kata Pengantar Ratih Sang
only Rp. 27.500 

Apa kata mereka tentang buku ini?

Simple, Praktis dan wajib bagi istri-istri yang ingin membentuk keuangan keluarga dengan terjun ke dunia bisnis
- Valentino Dinsi-
Penulis Best Seller Jangan Mau Seumur Hidup Jadi orang Gajian-

“Buku penting dan wajib bagi wanita. Sangat bermanfaat untuk pria bertanggung jawab”
-Tung Desem Waringin-
Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia (versi Majalah Marketing) Penulis buku Terlaris Rekor MURI Financial Revolution

Mau menjadi bunda yang kreatif dan produktif? Ingin menjadi Bunda yang mahir berbisnis? Nah, baca saja buku yang sarat dengan perbaikan kualitas diri. Bukan Buku Biasa….!
-Pipiet Senja-
Novelis Indonesia

2 comments November 16, 2007

Menjadi diri sendiri atau seperti kemauan kita?

Kemarin saya bertemu seorang kawan di sebuah acara dia bercerita banyak tentang anaknya, yang menurutnya sering susah disuruh belajar, sering susah disuruh les kumon, nggak serius kalo belajar, males les piano dan segudang keburukan lain.
Lalu saya balik bertanya, sudahkah buat kesepakatan dengan anak waktu untuk belajar? Les kumon, les piano  atas kemauan siapa?
Dengan santai dan tanpa bersalah teman saya menjawab, saya khan pengin anak saya juga bisa mahir main musik jadi juara kelas, khan saya sudah capek cari biaya, masak dia gak mau berprestasi. Coba jeng bayangin saja…anak tetangga saya itu rajin-rajin….pinter-pinter….penurut, gak kayak anak saya…bandel…
Saya kembali tersenyum….saya tidak berkomentar banyak terhadap kawan saya tersebut karena sebelum saya sempat berkomentar sudah ada tamu lain yang sama menghadiri acara tersebut. Namun saya jadi berfikir dan tergelitik untuk menulis di blog ini, mudah-mudahan kawan saya membaca blog ini dan mulai sadar atas sikapnya.

Seringkali kita memaksa anak kita menjadi juara ini, pandai ini dan ahli itu, kita tidak pernah memperhatikan apa sebenarnya yang anak kita inginkan, semakin tinggi pendidikan dan kedudukan seseorang banyak yang berfikir ‘anaknya harus sukses seperti dia’. Kita seringkali lupa bahwa anak kita punya keinginan sendiri, punya dunia sendiri. Bukankah anak kita lahir sebagai pribadi yang unik? pribadi-pribadi yang istimewa? Pernahkah kita membiarkan anak kita berbahagia bermain, mengikuti kesenangan dan keinginannya?
Mendidik anak menjadi yang terbaik adalah kewajiban para orang tua, namun bukan berarti menjadi diri kita.
Kalau anak susah dan gak mau belajar pastilah ada sebabnya, bisa jadi dia tidak tahu kenapa dia harus belajar, kenapa dia tidak boleh bermain. Pernahkah kita jelaskan kepada anak kenapa anak kita harus belajar? Jika sudah alhamdulillah, berarti kita sudah menjadi orang tua yang baik, namun jika belum sebaiknya kita belajar lagi bagaimana mendidik anak kita agar mau belajar. Kenapa tidak kita buat kesepakatan supaya anak kita dengan rela belajar tanpa kita suruh?
Kemudian soal les, kita tidak perlu memaksa anak kita ikut les ataupun kursus yang sebenarnya tidak diminati oleh anak kita hanya sekedar untuk gengsi kita…atau supaya ini dan itu, tanyakan dulu pada anak kita, lihat juga kemampuan dan bakatnya, jangan sampai anak kita terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bermain. Ada orang tua yang karena kesibukannya bekerja ingin anaknya ikut sibuk, sehingga dari pagi hingga petang anaknya diberi kesibukan berbagai kursus.  Kenapa anak yang harsu jadi korban karena kita sibuk? Bukankah dunia anak adalah dunia bermain yang menyenangkan?
Kita kembali pada diri kita masing-masing, sudah benarkah kita mendidik putra putri kita, dan jangan paksa mereka menjadi diri kita karena mereka bisa menjadi diri mereka sendiri.

Add comment October 29, 2007

Ranking di sekolah, perlukah?

Pertanyaan tentang ranking sering banget dipertanyakan oleh orangtua, bahkan ngga jarang orang tua yang bangga karena anaknya dapat ranking di sekolah. Ya begitulah sistem pendidikan yang secara turun menurun diajarkan di negeri ini, saya pun dulu sangat senang jika mendapatkan ranking, dan sempet nangis seharian karena malu gara-gara turun ranking satu peringkat. Orang tua saya pun termasuk orangtua yang membagakan prestasi anaknya lewat ranking ini, dulu kami anak-anaknya diancam untuk dikeluarkan dari sekolah jika tidak mendapatkan ranking, bahkan saya sendiri diancam untuk jadi penggembala sapi jika saya tidak mendapatkan ranking saat EBTANAS.
Alhamdulillah saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang menghapus sistem ranking itu dan mulai menerapkan pendidikan berbasis kecerdasan majemuk atau multiple inteligence dan juga pendidikan karakter.
“Loh kok ngga ada ranking dibilang bagus bagaimana menilainya?” mungkin ada bunda yang bertanya demikian.
Baik, kita kita balik ke tulisan sebelumnya tentang kecerdasan majemuk, disana saya jelaskan bahwa anak-anak kita memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Bisa jadi anak kita menonjol di kecerdasan musikal tapi kurang di kecerdasan matematika. Kalo demikian kejadiannya layakkah anak kita dibilang bodoh karena tidak cerdas matematika? Relakah kita? Bagaimana pula perasaan anak kita?
Bunda tentu bisa menjawabnya sendiri tanpa saya jelaskan lagi, nah…kalo sudah demikian, perlukah sistem ranking itu diberikan di sekolah?
Bukankah tujuan sebenarnya adalah penguasaan ilmu, bukan ranking?
Setelah saya baca beberapa literatur tentang pendidikan anak, saya ingin coba berbagi alasan saya kurang setuju dengan sistem ranking ini :
           

  • Ranking identik dengan pemberian Label
    Pemberian label pada anak merupakan salah satu hal yang perlu dihindari dalam mendidik anak (baca postingan sebelumnya) karena pelabelan ini anak yang mendapatkan label ‘juara’ bisa jadi menjadi sombong atau overconvidence dan yang tidak mendapatkan rangking akan menjadi rendah diri atau minder
  • Ranking dilakukan hanya untuk menonjolkan prestasi akademik

Nilai-nilai yang tertera pada raport biasanya hanya menunjukkan nilai prestasi akademik dari siswa, tanpa memperhatikan prestasi dan potensi lainnya, misalnya seorang anak yang di kelas biasa-biasa saja tapi menonjol dalam prestasi olahraga akan terlepas dari penilaian dan pemberian ranking ini, lalu biasanya anak ini dianggap tidak berprestasi…menyedihkan sekali.

  • Pemberian ranking hanya berdasarkan data kualitatif

Ranking biasanya dibuat hanya berdasar data-data yang tertulis di rapot terlepas apakah data tersebut objectif atau tidak, maksud saya objectif apa tidak adalah apakah guru memberikan nilai secara benar atau berdasarkan subjectifitas tertentu..apakah angka-angka itu diperoleh dengan benar-benar pemahaman siswa atau hasil menyontek?

  • Ranking bisa memacu berbuat curang

Dengan adanya ranking ngga jarang orangtua yang memacu anaknya untuk mendapatkan juara di sekolah, sehingga nggak jarang anak berbuat curang dalam mendapatkan nilai, karena harus menuruti orang tua, misalnya menyontek atau minta bantuan teman

  • Anak bisa stress dan malas

Target untuk mendapatkan ranking dari orangtua dan guru seringkali membuat anak menjadi stress dan tertekan, kalo sudah demikian maka anak akan malas belajar sehingga bukan hasil yang maksimal yang diperoleh tapi malah semakin memperburuk hasil

1 comment September 25, 2007

puisi Jenderal Douglas Mc. Arthur

Beberapa waktu lalu saya dapat email dari seorang teman, yang mengingatkan kepada kita terhadap buah hati kita…sebuah puisi terlampir dalam sebuah email, puisi yang bagus untuk para orang tua…sekaligus sebagai doa untuk para buah hatinya…

Puisi Seorang Prajurit Sejati
Tuhanku,
Jadikanlah anakku seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya
berani menghadapi kala ia takut
yang bangun dan tidak runduk dalam kekalahan yang tulus
serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan

Tuhanku,
Jadikanlah anakku seorang yang tahu akan adanya Engkau
dan mengenal dirinya, sebagai dasar segala pengetahuan

Tuhanku,
bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah
tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran
Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai
dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil

Tuhan,
Jadikanlah anakku seorang yang berhati suci, bercita-cita luhur
sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain
mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu
Sesudah semuanya membentuk dirinya aku mohon ya Tuhan
Rahmatilah ia, dengan rasa humor sehingga serius tak berlebihan
berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran
Ini semua ya Tuhan dari kekuatan dan keagungan Mu itu
sehingga beranilah aku berkata:
“Tak sia-sia hidup sebagai bapaknya”
*****diterjemahkan bebas dari ‘puisi Jenderal Douglas Mc. Arthur’*****

Add comment September 18, 2007

Arti sebuah panggilan

Kita orangtua kadang tanpa sengaja memberikan panggilan tertentu atau bahkan gelar pada anak kita…misalnya karena anak kita bertubuh gendut kita panggil ’si gendut’…atau karena anak kita banyak bicara kita panggil ’si ceriwis’ dan masih banyak panggilan atau perumpamaan lain yang tanpa kita sadar kita gunakan dalam sehari-hari, baik untuk tujuan bercanda maupun serius.

Pernahkah kita bertanya kepada anak kita…apakah anak kita, apakah senang dengan panggilan yang kita berikan? Atau coba kita berkaca pada diri kita…bagaimana seandainya orang lain memanggil kita dengan julukan yang kurang kita sukai…misalnya si cerewet…si gendut atau yang lainnya? Intinya pasti kita tidak menyukainya khan?

Saya pribadi menjawab saya tidak suka…saya ingat benar waktu masih kuliah ada seorang teman yang suka memanggil saya dengan panggilan ’sepur (kereta)’ karena memang kalo bicara dan jalan saya sering terlalu cepat…dan saya merasa kurang nyaman dengan panggilan itu…

Kembali pada panggilan, julukan, atau gelar yang kita berikan pada anak, saya yakin anak-anak banyak yang tidak menyukai gelar atau panggilan negatif yang kita berikan. Ambil contoh anak yang gendut dan kita julukin ’si gendut’
Saat kita memanggil dengan si gendut pasti anak tersebut merasa kurang nyaman dan merasa malu atau minder dengan kondisi dirinya. Justru dari situ kita telah melukai hati anak dan membuat rasa percaya dirinya perlahan hilang.
Sikap kita seperti itu sering tidak disadari namun dari sinilah justru karakter anak akan dibentuk, kita sering menyalahkan anak kita saat anak kita minder atau ngga berani tampil di muka umum….tapi pernahkah kita bertanya balik, sudahkah kita memotivasi anak kita…misalnya dengan memberinya semangat bahkan memanggilnya dengan panggilan yang menyenangkan bagi mereka?

Sebagai orang tua yang baik, tentunya kita ingin anak kita berkarakter baik…tidak ingin anak kita punya kepribadian yang suka membantah kita…
Kenapa kita tidak memulainya dengan hal-hal yang kecil? Kasih sayang kita akan mendapatkan balasan dari anak kita, demikian pula sebaliknya kata-kata yang kurang mereka sukai akan berbekas di hati mereka dan membuat mereka melakukan perlawanan kepada kita.

Tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan dan mendidik anak kita menjadi  lebih baik lagi….
Mulai sekarang kita ganti julukan negatif menjadi positif…atau cukup dengan memanggil menggunakan nama yang paling dia sukai…supaya anak-anak kita menjadi lebih baik lagi. Tanyakan pada anak kita…panggilan apa yang paling disukai dan panggilah anak kita dengan panggilan itu.

Add comment September 17, 2007

Anak yang lebih besar selalu salah…

Sering dalam mendidik putra putri nya orang tua mengalami kesalahan….salah satunya meminta anak yang lebih besar untuk mengalah…
Contoh nyatanya misalnya Desi dan Deni…
Desi berusia 6 tahun dan Deni berusia 3 tahun….saat keduanya bermain bersama dan terjadi perselisihan…kita bilang gini…”Desi…kamu khan sudah besar…ayo jangan nakal…ngalah ama adik ya…”
Tanpa kita sadari kita telah berbuat salah pada putra putri kita, Desi akan merasa tidak percaya diri karena harus selalu mengalah…dan pada dirinyapun akan tumbuh sikap dendam dan benci pada adiknya…”awas ya…kalo Mama ngga ada kamu pasti akan kukalahkan…”
Dan si kecil Deni merasa diatas angin akhirnya menjadi anak yang besar kepala dan tidak mau mengalah…dia akan merasa dirinya selalu benar.

Belajar dari sini sebaiknya orangtua menempatkan kondisi yang sebenarnya, apa yang salah dikatakan salah dan apa yang benar dikatakan benar…walopun usia masih kecil tetap kita mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.

1 comment August 29, 2007

Metode Cerdas menjadikan anak cerdas

Tulisan saya pindahkan ke dalam format PDF supaya lebih mudah dibaca, silakan klik disini metode-cerdas-menjadikan-anak-cerdas.pdf

Add comment August 28, 2007

Multiple Intelligence

Hari gini Bunda blom ngerti tentang multiple intelegence? waduh..bisa ketinggalan kereta deh….karena kecerdasan inilah yang bisa dibina oleh orang tua untuk perkembangan anaknya.

Multiple Intelegence atau kecerdasan majemuk pertama kali dicetuskan oleh Howard Gardner peneliti dari Harvard dengan delapan kecerdasan yaitu :

  1. Kecerdasan linguistic/bahasa, kecerdasan ini  mencakup kemampuan membaca, menulis dan berbicara.Termasuk di dalamnya kemampuan merefleksikan pikiran dan perasaan dalam kata-kata.
  2. Logical-mathematical/kecerdasan logika matematika, kecerdasan kedua ini berhubungan dengan kemampuan menganalisa sebab-akibat dan juga mencakup kemampuan melakukan perhitungan matematika dan penggunaan sistem bilangan abastrak.
  3. Kecerdasan bodily kinesthetic merupakan kemampuan mengekspresikan ide dan perasaan dalam gerakan tubuh termasuk kemampuan menggunakan koordinasi tubuh dab mengontrol gerakan-gerakan. misalnya penari, atlet
  4. Kecerdasan spasial, kecerdasan ini melibatkan imajinasi aktif yang membuat seseorang mampu mempersepsikan warna, garis dan luas serta menetapkan arah dengan tepat. kecerdasan seperti ini biasanya pelukis, pemahat, arsitek.
  5. Kecerdasan musical melibatkan sensivitas terhadap bunyi dan ritme, serta digunakan untuk mengenali, meniru, menghasilkan maupun menciptakan musik.
  6. Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk berelasi dan berkomunikasi, serta memahami maksud orang lain.
  7. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensi, serta mengekspresikan dirinya.
  8. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami sifat-sifat alam. Kecerdasan ini dibutuhkan oleh ahli biologi, ahli binatang, ahli tanaman maupun petani.

Namun seiring perkembangannya ditambah lagi satu kecerdasan yang justru sangat penting yaitu kecerdasan “Spiritual”. Kecerdasan ini sangat penting karena merupakan kemampuan diri kita dalam mengenal dan memahami bahwa kita sepenuhnya adalah makhluk ciptaan Alloh yang merupakan bagian dari alam semesta.  

Nah…sebagai orang tua para bunda mesti tahu kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki putra putrinya…karena bisa jadi putra-putri kita lebih menonjol dalam salah satu atau lebih kecerdasan tersebut. Sehingga kita bisa mendidik putra putri kita dengan benar

3 comments August 20, 2007

Previous Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

January 2010
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category