Usaha paling TOP dan menguntungkan

Habis meeting urusan SOX yang cukup melelahkan saya makan siang dengan boss saya …biasa kita ngobrol ngalor ngidul seputar project SOX…nggak lama kemudian datang kawan boss yang kebetulan satu milis dengan saya, ikut gabung makan siang di kantin. 
Beliau tanya ke saya ” kemarin ke halal bi halal TDA ngga?”  Saya bilang ngga bisa hadir karena ada urusan lain. Topik obrolan pun menjadi berubah karena beliau ini menceritakan ingin memulai bisnis anthurium, yang saat ini lagi marak harganya mencuat tinggi. Yang lucu beliau ini malah tanya-tanya ke saya seluk beluk bisnis tanaman ini. “Wah…saya ngga punya ilmu banyak Pak tentang hal ini….jawab saya spontan” Saya hanya kasih sedikit advise, kalau baru akan mulai sekarang dan mengejar harga sangat tinggi sedangkan beliau belum punya persiapan sama sekali termasuk pengetahuan dan seluk beluk tentang bisnis ini kemungkinan berhasilnya kecil, kecuali beliau bisa menggandeng dan kerjasama dengan orang yang tahu banyak akan bisnis ini.
Mendengar perkataan saya beliau ragu lagi, langsung bertanya lagi…”wah kalau begitu usaha apa yang paling menguntungkan saat ini?”

“Maaf Pak sebelumnya…tanpa mengurangi rasa hormat saya dan bukan berarti sok pinter, kalau Bapak bicara saat ini…Bapak sudah pada posisi yang benar, yaitu anthurium, untungnya bisa puluhan juta….tapi itu saat ini. Kenapa saya garis bawahi kata-kata saat ini, karena bisa jadi dalam 1 tahun ke depan harga anthurium sudah anjlok dan ngga tinggi seperti sekarang. Tergantung waktunya pak…Nah daripada pusing memikirkan apa yang paling top saat ini, lebih baik Bapak memulai dari sekarang….apapun yang Bapak kuasai, yang Bapak minati dan yang tentunya yang bisa Bapak jalankan sambil bekerja.
Karena yang namanya usaha bukan hanya sekedar jiplak saja…bukan sekedar ATM ( amati tiru modifikasi) saja…tapi kita harus punya  ilmu-ilmu yang terkait untuk menjalankan usaha tersebut “

“Tapi saya sudah pernah mencoba dan gagal…” kata sPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0i Bapak menyela.
” Loh….kegagalan itu proses, dan bukan berartiPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0 kegagalan itu jelek, karena dari kegagalan itu kitPOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0a bisa belajar banyak ilmu…nggak ada loh Pak sekolah khusus jurusan  kegagalan di negeri ini…so Bapak bisa belajar dari kegagalan tersebut, dan juga kegagalan orang lain di sekitar Bapak. Kalo sudah tahu titik-titik penyebab gagalnya jangan diulangi lagi supaya ngga jatuh di lubang yang sama.  Menurut saya tidak benar jika kita menyebut sebagai kegagalan, tapi alangkah lebih baik jika kita anggap itu adalah proses menuju keberhasilan, kita anggap sebagai sekolah kehidupan”

Waktu pun mulai bergerak mendekati jam 13.00 sehingga kami harus mengakhiri obrolan tersebut untuk kembali kerja…tapi saya sempat bertanya lagi ” Jadi bagaimana Pak…apakah masih mau bisnis anthurium atau mau coba yang memang benar-benar Bapak kuasai dan minati?” Si Bapak hanya tersenyum….satu doa saya dalam hati untuknya…semoga di langkahnya kali ini dipertimbangkan lebih matang dan menemui keberhasilan. Selamat berjuang  Pak.. :)

Add comment November 9, 2007 listysan

Anak pun punya rasa Cemburu

Akhir-akhir ini buah hati saya sangat suka dengan prakarya dari kain flanel dan Dua hari yang lalu saya berjanji untuk sampai rumah lebih cepat dan akan membuat karya baru dari kain flanel dan clay buatan sendiri. Kesenangannya itu sangat saya dukung untuk pengembangan kreatifitasnya. Sudah beberapa hasil karya yang dibuat, bantal mini buatannya sendiri, boneka kecil, tempelan kulkas dan beberapa jenis buah-buahan. Saya kebagian memotong pola dan menjahit, sedangkan putri saya bagian menempel lem dan memasukkan dacron.
Aktifitas yang mengasyikkan ini kami mulai sejak liburan lebaran kemarin dan rupanya sangat disukai.
Dua hari yang lalu dia punya ide membuat caterpilar mini untuk tempelan kulkas, ide ini dia dapatkan dari buku karya Eric Carley yang sempat dibeli di Kinokuniya beberapa waktu lalu. Tanpa pikir panjang saya pun meng- iya
kan kemauan anak saya dan berjanji untuk pulang tepat waktu keesokan harinya supaya bisa lebih lama bermain.Esok harinya seperti biasa saya berangkat kerja, hari itu saya harus bertemu dengan vendor, dan rupanya meeting baru bisa diselesaikan pukul 17.00. Ups…saya sudah terlambat 1 jam dari jam pulang biasanya. Buru-buru saya telpon anak saya dan minta maaf, karena saya telat pulang, benar saja…dia sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan dijadikan prakarya. Alhamdulillah anak saya  memaklumi dan memaafkan saya.  Sisi lain hati saya sebenarnya merasa nggak enak …namun itu konsekuensi saya sebagai karyawan yang harus menyelesaikan tugas kantor. Hujan rintik menyertai perjalanan dan hari itu lalu lintas Jakarta benar-benar macet…..hampir 2 jam berada dalam perjalanan….
Sampai rumah saya disambut dengan pelukan dan cerita bahwa pePOST http://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0rsiapan pembuatan prakarya sudah siap.
Langsung saya bersihkan badan dan temani anak saya bermain sesuai kesepakatan, namun tiba-tiba telpon saya berdering, putri salah seorang sahabat harus dititipkan ke saya. Akhirnya malam itu kami main bertiga bersama anak sahabat saya. Semuanya berjalan lancar hingga mereka semua tertidur.
Keesokan harinya saya mulai rutinitas seperti biasana, saya bangunkan anak-anak untuk sholat dan saya menyiapkan segalanya untuk berangkat kerja. Alhamdulillah semuanya lancar. Saat saya di kantor tiba-tiba anak saya telpon, menanyakan apakah malam nanti anak sahabat saya akan menginap lagi. Anak saya mengatakan, sebaiknya ngga…karena dia hanya pengin bermain dengan saya. Hmmm….saya sadar anak saya cemburu. Lalu saya beri pengertian dan semangat, bahwa anak teman saya hanya sementara…dan saya tekankan, walaupun main bersama, saya tetap akan memberikan porsi kasih sayang dan cinta padanya, dan saya pun berjanji untuk bermain berdua lebih lama lagi sebagai gantinya. Alhamdulillah dia kembali mengerti….

Seringkali kita orangtua tidak sadar kalau buah hati kita sedang cemburu, baik pada kesibukan kita, pada orang lain atau bahkan pada adiknya sendiri.

Pengungkapan rasa cemburu ini bisa bermacam-macam, kadang dengan marah-marah, dengan berbuat sesuatu yang menarik perhatian kita dan bahkan yang parah bisa jadi menyakiti orang yang dicemburuinya.

Sikap cemburu pada balita adalah wajar, karena di usianya, anak balita memang baru belajar melepaskan diri dari ketergantungan totalnya terhadap orangtua.
Ia pun masih memerlukan rasa bahwa ia diterima. Ia belum mengenal konsep berbagi. “Ini milikku!” adalah teriakan yang sering terlontar dari balita untuk barang-barang yang dimilikinya termasuk diri kita. Disamping itu balita belum pandai mengekspresikan perasaan cemburu dengan kata-kata sehingga tak jarang tindakan dan sikap yang dilakukan akan menjadi cermin dari perasaan mereka.

Menyikapi kecemburuan anak sebagai orang tua sebaiknya bersikap bijaksana, dengan memberikan penjelasan sesuai penalaran anak, dan juga kesabaran.

Mengajarkan kemandirian pada anak sangat penting untuk menghilangkan perasaan cemburu ini, sehingga secara perlahan anak akan mengerti dan mampu bersikap tegas tanpa bantuan dan tanpa ketergantungan dari kita.

Selain kemandirian hal yang boleh dilupakan tentunya adalah sikap untuk saling berbagi. Menghilangkan ego anak dan karakter mulia untuk saling berbagi ini tidak cukup sekali atau dua kali, proses pengajaran dilakukan dengan ketekunan sehingga anak benar-benar mengerti kebaikan saling berbagi.

Satu lagi yang perlu ditekankan pada anak, yakinkan bahwa anak kita tidak akan kehilangan cinta kita dengan kehadiran orang lain. Ini akan membuat anak percaya diri dan belajar mengerti. 

1 comment November 8, 2007 listysan

Cita-cita Mengubah Negeri

Ditengah banyaknya bencana di negeri ini dan gejolak politik yang tak menentu banyak bermunculan figur-figur yang ingin menonjolkan diri, ingin tampil dan dipandang masyarakat dengan tendensi tertentu, apakah ingin memenangkan pilkada, pemilu atau berbagai tendensi lainnya. Coba kalau kita amati, masing-masing calon gubernur, mereka pasti punya janji ingin merubah ini dan itu, memberantas kemiskinan, menghapus korupsi, dan janji-janji perubahan lainnya.
Usai pilihan gubernur banyak rakyat yang menunggu realisasi dari janji-janji perubahan itu, namun apakah semua janji itu akan terpenuhi?

Kebanyakan dari kita punya cita-cita yang sangat mulia, punya keinginan merubah kampungnya, merubah kabupatennya dan bahkan ingin merubah negeri tercinta ini menjadi lebih baik.
Namun sangat sayang jika cita-cita mulia itu  hanya sekedar menjadi cita-cita, karena kita terlalu sibuk berfikir bagaimana mengubah orang lain, tapi kita lupa untuk mengubah diri sendiri. Coba kita bayangkan seseorang yang bercita-cita mulia ingin merubah keadaan negeri ini, dia terlalu sibuk memikirkan cara perubahan yang tepat, yang bisa dilakukan oleh semua rakyat negeri ini, namun karena kesibukan itu dia sendiri lupa terhadap dirinya, sehingga untuk mewujudkan rencananya itu dia terlibat korupsi, dan karena kesibukannya itu pula dia lupa memperhatikan keluarganya sehingga anak-anaknya pun terlibat pergaulan bebas dan narkoba. Naudzubillah…
Dan hasil akhir dari cita-citanya adalah NOL besar…

Dari manakah sesungguhnya datangnya perubahan itu?
Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri“. (Al-Qur’an, Surat Ar-Ra’d: 11)

Teringat kata-kata dari Aa Gym, 3M -mulai dari diri sendiri-mulai, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini.

Sadarkah tangan ini terlalu kecil untuk dapat merubah negeri yang penduduknya ratusan juta? Sadarkah ratusan juta itu memiliki pemikiran yang berbeda dengan kita? Mungkin kita sering lupa dengan itu semua, sehingga kita punya cita-cita yang angat mulia.
Saya tidak menyalahkan pemimpin atau calon pemimpin yang punya cita-cita mulia, justru memang harus punya cita-cita mulia. Karena pemimpin akan menjadi teladan dan panutan bagi seluruh rakyat

Namun…sedikit yang ingin saya coba sampaikan…Untuk apa ingin merubah negeri jika diri sendiri tidak dirubah? Logikanya sangat sederhana, bukankah salah satu metode pendidikan adalah dengan keteladanan, jika diri kita berubah InsyaAlloh orang lain akan melihat kita dan mengikuti kita, paling tidak anak-anak kita, keluarga kita akan mengikuti apa yang kita lakukan.
Rosul bisa menjadi pemimpin yang luar biasa karena keteladanan beliau, beliau tidak meminta orang lain mengikuti apa yang tidak beliau lakukan.
Lalu kenapa kita tidak memulai dari diri kita sendiri? Menjadi diri yang terbaik, menjadi teladan bagi buah hati kita, bagi keluarga kita….Jika setiap bunda…setiap ayah…melakukan yang terbaik dan menjadi teladan baik bagi putra putrinya, tanpa kita rubah pun InsyaAlloh potret negeri ini akan berubah.
Amin

Add comment November 6, 2007 listysan

Novelnya Olien

Tiba-tiba dua hari yang lalu status YM salah satu teman saya memberi kejutan…
Saya baru kenal dan bertemu Olien seminggu sebelum lebaran di MP Book Point, nggak nyangka kalau ternyata teman saya ini penulis Novel…luar biasa….disela kesibukannya bekerja Olien masih sempat menuliskan novel….saya jadi malu sekaligus terpacu….belum  satu karyapun yang bisa saya sumbangkan, mudah-mudahan ini akan mampu memompa dan memacu semangat saya untuk selalu berkarya…

“Selamat ya Olien…semoga sukses dengan novelnya dan terus berkarya pantang menyerah….”

Sekilas cuplikan tentang novel TUNTUN AKU KEMBALI KE JALAN-MU buah karya Olien…

 olien.jpg

Mien adalah seorang anak jalanan. Yatim piatu. Miskin. Tak berpendidikan. Tetapi setelah suatu hari dia pingsan di tepi jalan, saat hujan mengguyur deras dan petir menyambar dahsyat, segalanya berubah. Tiba-tiba Mien dapat membaca pikiran dan memengaruhi orang lain. Tiba-tiba Mien dapat mempelajari segala sesuatu dengan hanya sekejap. Dan, Mien yang terheran-heran pun mulai memanfaatkan kelebihannya itu. Semaksimal mungkin. Tetapi, dia lupa mencari tahu apa makna di balik semua keajaiban itu. Sampai Mien tumbuh dewasa, menjadi seorang wanita karier yang sukses dan kaya, sampai saat itulah baru dia kembali teringat kepada Yang Satu. Hati dan jiwanya terasa hampa, dan dia pun memulai pencariannya. Dia kembali mengunjungi kehidupan lamanya, mencari orang-orang yang dulu pernah bermakna baginya. Dan, di saat ini pulalah dia bertemu dengan dua orang pria yang sama-sama menarik hatinya. Siapa sebenarnya dirinya? Apa sebenarnya yang ditugaskan Tuhan kepadanya? Dan, siapakah pria yang nanti akan mendampinginya?

Anda pecinta Novel? Silakan mampir ke toko buku terdekat dan dapatkan Novel terbaru karya Diana Caroline

1 comment November 6, 2007 listysan

Doa dan kemudahan

Sedikit saya ingin mengulas tentang doa ini, dari sudut pandang diri saya yang masih ammah…bukan dari segi agama karena pengetahuan saya yang masih rendah didalam hal ini. Latar belakang tulisan ini adalah saya melihat dan mengamati beberapa hal dalam kehidupan, terutama generasi kita saat ini, yang tidak sedikit yang dalam kehidupannya bermanja, tidak mau susah, maunya langsung instan kaya, tidak mau bekerja keras, sehingga tidak jarang timbul korupsi yang merajalela dan menyusahkan orang lain juga kejahatan-kejahatan yang dilatarbelakangi keinginan memiliki sesuatu yang tidak menjadi haknya.

Setiap hari kita berdoa….untuk orang tua kita…untuk anak kita…untuk keluarga, sanak, saudara, teman dan bahkan untuk orang lain…
Namun di dalam doa  sering kali kita meminta kemudahan dan kemudahan, misalnya begini…”Ya Alloh berikan saya kemudahan dalam segala urusan”

Padahal kalo kita lihat kembali setiap jalan yang kita lalui tidak semuanya mudah…banyak jalan terjal, hambatan dan rintangan harus kita lalui dalam kehidupan, banyak masalah yang harus kita hadapi dan selesaikan.

Kalo saya analisa sebenarnya kita sering kali manja…minta dikasihani, dengan selalu meminta diberi kemudahan dalam setiap langkah,  padahal Alloh sendiri telah berfirman bahwa manusia akan diberikan ujian untuk mencapai derajat keimanan, yang intinya tidak semua jalan mudah untuk dilalui.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Boleh berdoa minta kemudahan, tapi alangkah baiknya jika doa dan permintaan kita dirubah, ganti dengan kata-kata penyemangat yang tidak terkesan manja, misalnya “Ya Alloh berikan saya kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi kehidupan” doa ini nuansanya pun akan menggugah kita berusaha untuk selalu tegar dan berjuang dalam setiap rintangan. Berbeda dengan doa pertama yang terkesan manja dan membuat kita pasrah.
Doa kita bisa jadi akan didengarkan oleh seluruh alam dan alam akan merespon doa kita dengan pancaran energinya, so..kita kembalikan lagi pada diri kita, sudah benarkah kita dalam berdoa?

Add comment November 6, 2007 listysan

Menjadi diri sendiri atau seperti kemauan kita?

Kemarin saya bertemu seorang kawan di sebuah acara dia bercerita banyak tentang anaknya, yang menurutnya sering susah disuruh belajar, sering susah disuruh les kumon, nggak serius kalo belajar, males les piano dan segudang keburukan lain.
Lalu saya balik bertanya, sudahkah buat kesepakatan dengan anak waktu untuk belajar? Les kumon, les piano  atas kemauan siapa?
Dengan santai dan tanpa bersalah teman saya menjawab, saya khan pengin anak saya juga bisa mahir main musik jadi juara kelas, khan saya sudah capek cari biaya, masak dia gak mau berprestasi. Coba jeng bayangin saja…anak tetangga saya itu rajin-rajin….pinter-pinter….penurut, gak kayak anak saya…bandel…
Saya kembali tersenyum….saya tidak berkomentar banyak terhadap kawan saya tersebut karena sebelum saya sempat berkomentar sudah ada tamu lain yang sama menghadiri acara tersebut. Namun saya jadi berfikir dan tergelitik untuk menulis di blog ini, mudah-mudahan kawan saya membaca blog ini dan mulai sadar atas sikapnya.

Seringkali kita memaksa anak kita menjadi juara ini, pandai ini dan ahli itu, kita tidak pernah memperhatikan apa sebenarnya yang anak kita inginkan, semakin tinggi pendidikan dan kedudukan seseorang banyak yang berfikir ‘anaknya harus sukses seperti dia’. Kita seringkali lupa bahwa anak kita punya keinginan sendiri, punya dunia sendiri. Bukankah anak kita lahir sebagai pribadi yang unik? pribadi-pribadi yang istimewa? Pernahkah kita membiarkan anak kita berbahagia bermain, mengikuti kesenangan dan keinginannya?
Mendidik anak menjadi yang terbaik adalah kewajiban para orang tua, namun bukan berarti menjadi diri kita.
Kalau anak susah dan gak mau belajar pastilah ada sebabnya, bisa jadi dia tidak tahu kenapa dia harus belajar, kenapa dia tidak boleh bermain. Pernahkah kita jelaskan kepada anak kenapa anak kita harus belajar? Jika sudah alhamdulillah, berarti kita sudah menjadi orang tua yang baik, namun jika belum sebaiknya kita belajar lagi bagaimana mendidik anak kita agar mau belajar. Kenapa tidak kita buat kesepakatan supaya anak kita dengan rela belajar tanpa kita suruh?
Kemudian soal les, kita tidak perlu memaksa anak kita ikut les ataupun kursus yang sebenarnya tidak diminati oleh anak kita hanya sekedar untuk gengsi kita…atau supaya ini dan itu, tanyakan dulu pada anak kita, lihat juga kemampuan dan bakatnya, jangan sampai anak kita terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bermain. Ada orang tua yang karena kesibukannya bekerja ingin anaknya ikut sibuk, sehingga dari pagi hingga petang anaknya diberi kesibukan berbagai kursus.  Kenapa anak yang harsu jadi korban karena kita sibuk? Bukankah dunia anak adalah dunia bermain yang menyenangkan?
Kita kembali pada diri kita masing-masing, sudah benarkah kita mendidik putra putri kita, dan jangan paksa mereka menjadi diri kita karena mereka bisa menjadi diri mereka sendiri.

Add comment October 29, 2007 listysan

Mohon Maaf Lahir Batin

Ramadhan berlalu begitu cepat….Bulan pun berganti….

Saya dan keluarga mengucapkan:Taqobballahu Minna Wa Minkum
Shiyamana Wa Shiyamukum
Kullu ‘amin Wa Antum Bi Khairin
Minal ‘aidin Wal Faizin
 

Semoga Allah menerima (amalan) aku dan kalian
Puasaku dan puasa kalian
Semoga sepanjang tahun kita selalu dalam kebaikan
Semoga kita termasuk orang yang kembali (fitrah) dan berbahagia

Add comment October 22, 2007 listysan

Mengintip proses belajar di sekolah

 Masih banyak orangtua yang beranggapan belajar itu harus duduk di kelas atau pergi ke sekolah dan diajar oleh seorang guru, mengikuti kurikulum tertentu dan dengan output yang sudah ditargetkan pula, misalnya anak-anak harus bisa baca tulis hitung dan sebagainya.Sehingga banyak sekali orangtua yang buru-buru mencari sekolah buat anaknya sejak usianya masih dini, dan banyak pula yang para orang tua yang sibuk mencari dan bertanya-tanya tentang sekolah yang bagus.

Apalagi Bunda yang bekerja seperti saya ini…tentu tidak mau ketinggalan moment dalam hal yang satu ini, karena ingin anaknya menjadi yang terbaik, karena sedikitnya waktu yang Bunda luangkan buat anaknya.

Dua tahun yang lalu saya termasuk salah satu yang berburu ‘sekolah baik’ saat ingin memasukkan buah hati saya ke play group karena keinginannya masuk sekolah.
Saya termasuk yang sedikit agak ketat dalam hal ini, sehingga membuat cek list ‘sekolah baik’ dan ‘sekolah buruk’ versi saya sehingga setiap saya telpon ke beberapa sekolah beberapa daftar pertanyaan telah saya siapkan, yang penting ngga beda jauh dengan konsep pembelajaran di Ibnu Rusyd, sekolah yang saya bangun beserta teman-teman di BSD.

‘apakah ada free trial untuk cara pengajarannya?’
klo ‘iya’ saya langsung masukkan ke dalam list sekolah baik karena saya bisa lihat dulu nanti yang diajarkan apa.

‘apakah belajarnya hanya duduk di kelas?’
klo ‘iya’ langsung saya coret

‘apakah di play group diajar tul menul dan calistung dengan duduk di kelas?’
klo ‘iya’ tidak masuk daftar saya..

‘apakah belajarnya fun dan banyak bermain?’
klo’ iya’ masuklah sekolah ini ke dalam sekolah pilihan saya

dan masih banyak daftar lain termasuk bagaimana gurunya, bagaimana konsep belajar dan kurikulumnya…

ada salah satu sekolah yang saat itu favorit banget termasuk daftar yang saya coret, suami saya melihat ulah saya hanya senyum -senyum saja tanpa komentar karena sebelumnya kita sudah sepakat untuk mencari sekolah yang ramah otak, dan tetap setia menemani hunting cari sekolah tiap Sabtu, hingga akhirnya dapatlah sekolah yang tempatnya ngga begitu bagus, dan lokasinya pun di komplek perumahan yang jalannya hanya cukup parkir satu mobil, sekolah inilah yang saya pilih…dan alhamdulillah saya ngga salah pilih, hingga tahun kemarin saya bisa buka sekolah sendiri di rumah.

Saya ceritakan pengalaman saya ini kepada seorang teman, rupanya dia beda konsep dengan saya….karena menurut dia sekolah yang bagus adalah yang kurikulumnya full sampai sore sehingga anak-anaknya pulang sekolah dia pun sudah pulang kerumah sehingga tidak ada waktu bermain buat anaknya, menurut teman saya ini bermain hanyalah menghabiskan waktu saja dan tidak bermanfaat.

Sama persis dengan komentar salah seorang wali murid yang protes ke saya karena anaknya yang sekolah di tempat saya selalu cerita kalo di sekolah selalu main ini dan itu…‘ asyik deh Ma…tadi kita bikin mainan badut dan menanam pohon’…katanya menirukan anaknya.

Begitu gelisah orang tua ini, mengkhawatirkan anaknya jika masuk SD tahun depan belum bisa baca tulis.

Saya balik bertanya, Ibu…apakah Ibu ingin anaknya bisa baca tulis atau suka membaca tulis? InsyaAlloh di sekolah kita anak akan diajarkan supaya cinta baca tulis bukan sekedar bisa baca tulis saja….

Spontan protes dia…loh apa bedanya….??!!

Ya jelas beda Bu…klo bisa baca tulis dia hanya ‘BISA’ tidak akan mencintai membaca…namun jika anak Ibu suka baca tulis, tanpa Ibu suruh pun anak Ibu akan belajar sendiri karena dia mencintai membaca dan menulis…dan perlu Ibu ketahui belajar itu tidak harus selalu dengan baca tulis duduk manis di kelas, sambil bermain pun kita ajarkan anak untuk belajar baca tulis….misalnya saat anak Ibu membuat boneka badut, di sela-sela itu kita menunjukkan bahwa badut itu diawali dengan huruf ‘B’ sehingga anak mulai kenal huruf, menanam pohon pun begitu, saat kecambah sudah mulai tumbuh daun akan kita ajak anak menghitung jumlah daunnya, disinilah anak diajar berhitung, tak hanya itu anak dikenalkan juga proses pertumbuhan dari biji menjadi tanaman, pohon, berbunga dan berbuah, dan anak diajarkan mengenal Al-Kholiq yang maha menciptakan makhluk di bumi ini termasuk tanaman.

Sambil setengah ragu-ragu Ibu tersebut bilang ” ya mudah-mudahan saja saya nggak salah pilih Bu…”

Demikianlah gambaran pandangan orangtua terhadap pendidikan anak, mungkin kita seringkali lupa, bahwa belajar itu tidak harus di sekolah, bahkan saat ini banyak sekali yang mulai menerapkan konsep belajar di rumah atau home schooling. Kita lupa bahwa bermain juga termasuk proses belajar, lalu kenapa kita melarang anak kita bermain?

Sewaktu masih bayi anak kita ngga bisa berjalan…tapi akhirnya sekarang bisa berlari karena belajar sambil bermain, tidak pernah ada pelajaran khusus bagaimana harus berdiri, berjalan dan berlari, semua itu berproses.

Proses yang alami InsyaAlloh akan menghasilkan hasil yang maksimal dibandingkan dengan proses yang instan. Instan artinya anak langsung dipaksakan sedangkan otaknya belum siap untuk menerimanya.

Masa kanak-kanak adalah masa emas, otak mereka berkembang sangat pesan, sehingga selayaknyalah jika kita para orang tua memperhatikan hal tersebut. Jangan sampai kreatifitas anak – anak kita mati, hanya karena pendidikan yang statis, misalnya berpacu pada salah satu buku wajib, tidak mengikuti perkembangan dan kebutuhan anak, terbatas pada ruang dan juga pendidikan jasmani saja tanpa memperhatikan aspek rohani.

Saya sebutkan proses instan seperti contohnya dalam 2 bulan pertama anak harus sudah bisa membaca dan menulis, sehingga diberilah anak buku wajib yang harus selesai dalam 2 bulan tersebut.  Pasti akan berbeda hasilnya jika dalam dua bulan pertama anak ditanamkan rasa cinta menulis…kenapa kita harus bisa menulis, kenapa kita harus bisa membaca…dengan penjelasan yang santun dan sesuai dengan usia anak, sedangkan pembelajaran baca tulis diajarkan perlahan-lahan dengan berbagai permainan menyenangkan.

Ayah atau Bunda bisa mencobanya sendiri di rumah terhadap anak-anak Bunda, coba paksakan satu hal pembelajaran terhadap anak dan bandingkan hasilnya dengan mengajarkan hal lain namun berproses yang menyenangkan, lalu amati hasilnya.

Bahkan beberapa waktu lalu saat saya bertemu dengan seorang psikolog anak beliau pun mengatakan bahwa dari hasil penelitianpun dibuktikan bahwa anak-anak yang belajarnya terlalu dipaksa dengan target-target tertentu di masa kecil di masa remajanya sudah mulai jenuh dan tidak berkembang lagi.

Silakan direnungkan kembali mau pilih yang mana, karena buah hati adalah amanah Ilahi buat kita semua.

Add comment September 27, 2007 listysan

Benarkah Ngga punya Ide ??!

 katanya mau punya usaha…!

katanya kepengin klo ngelihat temen sukses dalam bisnis…!

katanya mo jadi bunda yang mandiri secara finansial…!

Tapi sejak ketemu tahun lalu tak satupun usaha yang dimulai…bahkan sekecil apapun itu…lalu yang bener mana? Niat ngga sih sebenarnya…..he he he
Begitulah kondisi seorang kawan yang pernah cerita ingin punya usaha dan punya keinginan mandiri secara finansial, saat saya ketemu satu tahun lalu dan sekarang ceritanya ngga ada beda…

“masih progress nih …belum punya ide”

gubrak deh..satu tahun waktu hanya progress terus dan dihabiskan untuk cari ide…udah gitu ngga nemu ide juga?
Saya kerutkan dahi….saya jadi berfikir…bener ngga sih ngga punya ide…
Lah….bukannya ide banyak bertebaran di sekitar kita? Mulai dari berangkat dari rumah hingga sampai kantor di kanan kiri kita penuh dengan ide…
Mulai yang gampang sampai yang sulit direalisasikan, mulai yang modalnya kecil sampai yang modalnya besar.

Masih kesulitan juga? Coba pake prinsip ATM (Amati Tiru Modifikasi), saya rasa hal ini halal dalam dunia usaha, dan sudah lazim dilakukan banyak orang. Misalnya kita melihat ada yang jual pakaian saat kita berangkat ke kantor, kenapa ngga ikutan aja klo memang benar-benar ngga punya ide? Dengan berjualan yang sama, lokasi berbeda, dengan sedikit modifikasi cara jualan, cara promosi, misalnya orang lain jualnya di toko Anda jual di internet promosi dengan cara yang berbeda, ngga ada salahnya khan?

Masih ngeles atau alasan ngga punya ide lagi? Rasanya sih itu mengada-ada…dan menurut saya justru sebenarnya bukan ngga punya ide tapi karena ngga mau action, ngga mau memulai.

Sehebat apapun ide kita kalo nggak pernah dilaksanakan tentu kita tidak akan bisa menceritakan manisnya sukses atas ide kita itu…walaupun hanya sederhana, bahkan banyak yang memandang sebelah, tapi bisa jadi jika sudah kita laksanakan akan menjadi luar biasa…pernah dengan kata2 ini khan ?…no action nothing happen…action and miracle will happen

So…tanpa menghormati teman, saudara, sahabat atau siapa aja yang suka bilang ngga punya ide…jangan lagi pakai alasan yang ini deh….udah basi alias ketahuan banget kalo mengada-ada…untuk menutupi alasan sebenarnya yaitu ngga mau action alias belum memulai….
Mulailah saudaraku… saudariku….InsyaAlloh akan ada jalan membentang…miracle will happen…Ramadhan bukan berarti malas-malasan loh…justru ini bulan baik untuk memulai  karena banyak keajaiban di bulan ini…ingat cerita perang Badar yang dimenangkan Rosul pada bulan Ramadhan khan?

-mulai hari ini lebih baik daripada tidak sama sekali-
 

4 comments September 25, 2007 listysan

Ranking di sekolah, perlukah?

Pertanyaan tentang ranking sering banget dipertanyakan oleh orangtua, bahkan ngga jarang orang tua yang bangga karena anaknya dapat ranking di sekolah. Ya begitulah sistem pendidikan yang secara turun menurun diajarkan di negeri ini, saya pun dulu sangat senang jika mendapatkan ranking, dan sempet nangis seharian karena malu gara-gara turun ranking satu peringkat. Orang tua saya pun termasuk orangtua yang membagakan prestasi anaknya lewat ranking ini, dulu kami anak-anaknya diancam untuk dikeluarkan dari sekolah jika tidak mendapatkan ranking, bahkan saya sendiri diancam untuk jadi penggembala sapi jika saya tidak mendapatkan ranking saat EBTANAS.
Alhamdulillah saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang menghapus sistem ranking itu dan mulai menerapkan pendidikan berbasis kecerdasan majemuk atau multiple inteligence dan juga pendidikan karakter.
“Loh kok ngga ada ranking dibilang bagus bagaimana menilainya?” mungkin ada bunda yang bertanya demikian.
Baik, kita kita balik ke tulisan sebelumnya tentang kecerdasan majemuk, disana saya jelaskan bahwa anak-anak kita memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Bisa jadi anak kita menonjol di kecerdasan musikal tapi kurang di kecerdasan matematika. Kalo demikian kejadiannya layakkah anak kita dibilang bodoh karena tidak cerdas matematika? Relakah kita? Bagaimana pula perasaan anak kita?
Bunda tentu bisa menjawabnya sendiri tanpa saya jelaskan lagi, nah…kalo sudah demikian, perlukah sistem ranking itu diberikan di sekolah?
Bukankah tujuan sebenarnya adalah penguasaan ilmu, bukan ranking?
Setelah saya baca beberapa literatur tentang pendidikan anak, saya ingin coba berbagi alasan saya kurang setuju dengan sistem ranking ini :
           

  • Ranking identik dengan pemberian Label
    Pemberian label pada anak merupakan salah satu hal yang perlu dihindari dalam mendidik anak (baca postingan sebelumnya) karena pelabelan ini anak yang mendapatkan label ‘juara’ bisa jadi menjadi sombong atau overconvidence dan yang tidak mendapatkan rangking akan menjadi rendah diri atau minder
  • Ranking dilakukan hanya untuk menonjolkan prestasi akademik

Nilai-nilai yang tertera pada raport biasanya hanya menunjukkan nilai prestasi akademik dari siswa, tanpa memperhatikan prestasi dan potensi lainnya, misalnya seorang anak yang di kelas biasa-biasa saja tapi menonjol dalam prestasi olahraga akan terlepas dari penilaian dan pemberian ranking ini, lalu biasanya anak ini dianggap tidak berprestasi…menyedihkan sekali.

  • Pemberian ranking hanya berdasarkan data kualitatif

Ranking biasanya dibuat hanya berdasar data-data yang tertulis di rapot terlepas apakah data tersebut objectif atau tidak, maksud saya objectif apa tidak adalah apakah guru memberikan nilai secara benar atau berdasarkan subjectifitas tertentu..apakah angka-angka itu diperoleh dengan benar-benar pemahaman siswa atau hasil menyontek?

  • Ranking bisa memacu berbuat curang

Dengan adanya ranking ngga jarang orangtua yang memacu anaknya untuk mendapatkan juara di sekolah, sehingga nggak jarang anak berbuat curang dalam mendapatkan nilai, karena harus menuruti orang tua, misalnya menyontek atau minta bantuan teman

  • Anak bisa stress dan malas

Target untuk mendapatkan ranking dari orangtua dan guru seringkali membuat anak menjadi stress dan tertekan, kalo sudah demikian maka anak akan malas belajar sehingga bukan hasil yang maksimal yang diperoleh tapi malah semakin memperburuk hasil

1 comment September 25, 2007 listysan

Previous Posts Next Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts