Mengintip proses belajar di sekolah

September 27, 2007 listysan

 Masih banyak orangtua yang beranggapan belajar itu harus duduk di kelas atau pergi ke sekolah dan diajar oleh seorang guru, mengikuti kurikulum tertentu dan dengan output yang sudah ditargetkan pula, misalnya anak-anak harus bisa baca tulis hitung dan sebagainya.Sehingga banyak sekali orangtua yang buru-buru mencari sekolah buat anaknya sejak usianya masih dini, dan banyak pula yang para orang tua yang sibuk mencari dan bertanya-tanya tentang sekolah yang bagus.

Apalagi Bunda yang bekerja seperti saya ini…tentu tidak mau ketinggalan moment dalam hal yang satu ini, karena ingin anaknya menjadi yang terbaik, karena sedikitnya waktu yang Bunda luangkan buat anaknya.

Dua tahun yang lalu saya termasuk salah satu yang berburu ‘sekolah baik’ saat ingin memasukkan buah hati saya ke play group karena keinginannya masuk sekolah.
Saya termasuk yang sedikit agak ketat dalam hal ini, sehingga membuat cek list ‘sekolah baik’ dan ‘sekolah buruk’ versi saya sehingga setiap saya telpon ke beberapa sekolah beberapa daftar pertanyaan telah saya siapkan, yang penting ngga beda jauh dengan konsep pembelajaran di Ibnu Rusyd, sekolah yang saya bangun beserta teman-teman di BSD.

‘apakah ada free trial untuk cara pengajarannya?’
klo ‘iya’ saya langsung masukkan ke dalam list sekolah baik karena saya bisa lihat dulu nanti yang diajarkan apa.

‘apakah belajarnya hanya duduk di kelas?’
klo ‘iya’ langsung saya coret

‘apakah di play group diajar tul menul dan calistung dengan duduk di kelas?’
klo ‘iya’ tidak masuk daftar saya..

‘apakah belajarnya fun dan banyak bermain?’
klo’ iya’ masuklah sekolah ini ke dalam sekolah pilihan saya

dan masih banyak daftar lain termasuk bagaimana gurunya, bagaimana konsep belajar dan kurikulumnya…

ada salah satu sekolah yang saat itu favorit banget termasuk daftar yang saya coret, suami saya melihat ulah saya hanya senyum -senyum saja tanpa komentar karena sebelumnya kita sudah sepakat untuk mencari sekolah yang ramah otak, dan tetap setia menemani hunting cari sekolah tiap Sabtu, hingga akhirnya dapatlah sekolah yang tempatnya ngga begitu bagus, dan lokasinya pun di komplek perumahan yang jalannya hanya cukup parkir satu mobil, sekolah inilah yang saya pilih…dan alhamdulillah saya ngga salah pilih, hingga tahun kemarin saya bisa buka sekolah sendiri di rumah.

Saya ceritakan pengalaman saya ini kepada seorang teman, rupanya dia beda konsep dengan saya….karena menurut dia sekolah yang bagus adalah yang kurikulumnya full sampai sore sehingga anak-anaknya pulang sekolah dia pun sudah pulang kerumah sehingga tidak ada waktu bermain buat anaknya, menurut teman saya ini bermain hanyalah menghabiskan waktu saja dan tidak bermanfaat.

Sama persis dengan komentar salah seorang wali murid yang protes ke saya karena anaknya yang sekolah di tempat saya selalu cerita kalo di sekolah selalu main ini dan itu…‘ asyik deh Ma…tadi kita bikin mainan badut dan menanam pohon’…katanya menirukan anaknya.

Begitu gelisah orang tua ini, mengkhawatirkan anaknya jika masuk SD tahun depan belum bisa baca tulis.

Saya balik bertanya, Ibu…apakah Ibu ingin anaknya bisa baca tulis atau suka membaca tulis? InsyaAlloh di sekolah kita anak akan diajarkan supaya cinta baca tulis bukan sekedar bisa baca tulis saja….

Spontan protes dia…loh apa bedanya….??!!

Ya jelas beda Bu…klo bisa baca tulis dia hanya ‘BISA’ tidak akan mencintai membaca…namun jika anak Ibu suka baca tulis, tanpa Ibu suruh pun anak Ibu akan belajar sendiri karena dia mencintai membaca dan menulis…dan perlu Ibu ketahui belajar itu tidak harus selalu dengan baca tulis duduk manis di kelas, sambil bermain pun kita ajarkan anak untuk belajar baca tulis….misalnya saat anak Ibu membuat boneka badut, di sela-sela itu kita menunjukkan bahwa badut itu diawali dengan huruf ‘B’ sehingga anak mulai kenal huruf, menanam pohon pun begitu, saat kecambah sudah mulai tumbuh daun akan kita ajak anak menghitung jumlah daunnya, disinilah anak diajar berhitung, tak hanya itu anak dikenalkan juga proses pertumbuhan dari biji menjadi tanaman, pohon, berbunga dan berbuah, dan anak diajarkan mengenal Al-Kholiq yang maha menciptakan makhluk di bumi ini termasuk tanaman.

Sambil setengah ragu-ragu Ibu tersebut bilang ” ya mudah-mudahan saja saya nggak salah pilih Bu…”

Demikianlah gambaran pandangan orangtua terhadap pendidikan anak, mungkin kita seringkali lupa, bahwa belajar itu tidak harus di sekolah, bahkan saat ini banyak sekali yang mulai menerapkan konsep belajar di rumah atau home schooling. Kita lupa bahwa bermain juga termasuk proses belajar, lalu kenapa kita melarang anak kita bermain?

Sewaktu masih bayi anak kita ngga bisa berjalan…tapi akhirnya sekarang bisa berlari karena belajar sambil bermain, tidak pernah ada pelajaran khusus bagaimana harus berdiri, berjalan dan berlari, semua itu berproses.

Proses yang alami InsyaAlloh akan menghasilkan hasil yang maksimal dibandingkan dengan proses yang instan. Instan artinya anak langsung dipaksakan sedangkan otaknya belum siap untuk menerimanya.

Masa kanak-kanak adalah masa emas, otak mereka berkembang sangat pesan, sehingga selayaknyalah jika kita para orang tua memperhatikan hal tersebut. Jangan sampai kreatifitas anak – anak kita mati, hanya karena pendidikan yang statis, misalnya berpacu pada salah satu buku wajib, tidak mengikuti perkembangan dan kebutuhan anak, terbatas pada ruang dan juga pendidikan jasmani saja tanpa memperhatikan aspek rohani.

Saya sebutkan proses instan seperti contohnya dalam 2 bulan pertama anak harus sudah bisa membaca dan menulis, sehingga diberilah anak buku wajib yang harus selesai dalam 2 bulan tersebut.  Pasti akan berbeda hasilnya jika dalam dua bulan pertama anak ditanamkan rasa cinta menulis…kenapa kita harus bisa menulis, kenapa kita harus bisa membaca…dengan penjelasan yang santun dan sesuai dengan usia anak, sedangkan pembelajaran baca tulis diajarkan perlahan-lahan dengan berbagai permainan menyenangkan.

Ayah atau Bunda bisa mencobanya sendiri di rumah terhadap anak-anak Bunda, coba paksakan satu hal pembelajaran terhadap anak dan bandingkan hasilnya dengan mengajarkan hal lain namun berproses yang menyenangkan, lalu amati hasilnya.

Bahkan beberapa waktu lalu saat saya bertemu dengan seorang psikolog anak beliau pun mengatakan bahwa dari hasil penelitianpun dibuktikan bahwa anak-anak yang belajarnya terlalu dipaksa dengan target-target tertentu di masa kecil di masa remajanya sudah mulai jenuh dan tidak berkembang lagi.

Silakan direnungkan kembali mau pilih yang mana, karena buah hati adalah amanah Ilahi buat kita semua.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: