Anak pun punya rasa Cemburu

November 8, 2007 listysan

Akhir-akhir ini buah hati saya sangat suka dengan prakarya dari kain flanel dan Dua hari yang lalu saya berjanji untuk sampai rumah lebih cepat dan akan membuat karya baru dari kain flanel dan clay buatan sendiri. Kesenangannya itu sangat saya dukung untuk pengembangan kreatifitasnya. Sudah beberapa hasil karya yang dibuat, bantal mini buatannya sendiri, boneka kecil, tempelan kulkas dan beberapa jenis buah-buahan. Saya kebagian memotong pola dan menjahit, sedangkan putri saya bagian menempel lem dan memasukkan dacron.
Aktifitas yang mengasyikkan ini kami mulai sejak liburan lebaran kemarin dan rupanya sangat disukai.
Dua hari yang lalu dia punya ide membuat caterpilar mini untuk tempelan kulkas, ide ini dia dapatkan dari buku karya Eric Carley yang sempat dibeli di Kinokuniya beberapa waktu lalu. Tanpa pikir panjang saya pun meng- iya
kan kemauan anak saya dan berjanji untuk pulang tepat waktu keesokan harinya supaya bisa lebih lama bermain.Esok harinya seperti biasa saya berangkat kerja, hari itu saya harus bertemu dengan vendor, dan rupanya meeting baru bisa diselesaikan pukul 17.00. Ups…saya sudah terlambat 1 jam dari jam pulang biasanya. Buru-buru saya telpon anak saya dan minta maaf, karena saya telat pulang, benar saja…dia sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan dijadikan prakarya. Alhamdulillah anak saya  memaklumi dan memaafkan saya.  Sisi lain hati saya sebenarnya merasa nggak enak …namun itu konsekuensi saya sebagai karyawan yang harus menyelesaikan tugas kantor. Hujan rintik menyertai perjalanan dan hari itu lalu lintas Jakarta benar-benar macet…..hampir 2 jam berada dalam perjalanan….
Sampai rumah saya disambut dengan pelukan dan cerita bahwa pePOST https://untukbunda.wordpress.com/wp-admin/post.php HTTP/1.0rsiapan pembuatan prakarya sudah siap.
Langsung saya bersihkan badan dan temani anak saya bermain sesuai kesepakatan, namun tiba-tiba telpon saya berdering, putri salah seorang sahabat harus dititipkan ke saya. Akhirnya malam itu kami main bertiga bersama anak sahabat saya. Semuanya berjalan lancar hingga mereka semua tertidur.
Keesokan harinya saya mulai rutinitas seperti biasana, saya bangunkan anak-anak untuk sholat dan saya menyiapkan segalanya untuk berangkat kerja. Alhamdulillah semuanya lancar. Saat saya di kantor tiba-tiba anak saya telpon, menanyakan apakah malam nanti anak sahabat saya akan menginap lagi. Anak saya mengatakan, sebaiknya ngga…karena dia hanya pengin bermain dengan saya. Hmmm….saya sadar anak saya cemburu. Lalu saya beri pengertian dan semangat, bahwa anak teman saya hanya sementara…dan saya tekankan, walaupun main bersama, saya tetap akan memberikan porsi kasih sayang dan cinta padanya, dan saya pun berjanji untuk bermain berdua lebih lama lagi sebagai gantinya. Alhamdulillah dia kembali mengerti….

Seringkali kita orangtua tidak sadar kalau buah hati kita sedang cemburu, baik pada kesibukan kita, pada orang lain atau bahkan pada adiknya sendiri.

Pengungkapan rasa cemburu ini bisa bermacam-macam, kadang dengan marah-marah, dengan berbuat sesuatu yang menarik perhatian kita dan bahkan yang parah bisa jadi menyakiti orang yang dicemburuinya.

Sikap cemburu pada balita adalah wajar, karena di usianya, anak balita memang baru belajar melepaskan diri dari ketergantungan totalnya terhadap orangtua.
Ia pun masih memerlukan rasa bahwa ia diterima. Ia belum mengenal konsep berbagi. “Ini milikku!” adalah teriakan yang sering terlontar dari balita untuk barang-barang yang dimilikinya termasuk diri kita. Disamping itu balita belum pandai mengekspresikan perasaan cemburu dengan kata-kata sehingga tak jarang tindakan dan sikap yang dilakukan akan menjadi cermin dari perasaan mereka.

Menyikapi kecemburuan anak sebagai orang tua sebaiknya bersikap bijaksana, dengan memberikan penjelasan sesuai penalaran anak, dan juga kesabaran.

Mengajarkan kemandirian pada anak sangat penting untuk menghilangkan perasaan cemburu ini, sehingga secara perlahan anak akan mengerti dan mampu bersikap tegas tanpa bantuan dan tanpa ketergantungan dari kita.

Selain kemandirian hal yang boleh dilupakan tentunya adalah sikap untuk saling berbagi. Menghilangkan ego anak dan karakter mulia untuk saling berbagi ini tidak cukup sekali atau dua kali, proses pengajaran dilakukan dengan ketekunan sehingga anak benar-benar mengerti kebaikan saling berbagi.

Satu lagi yang perlu ditekankan pada anak, yakinkan bahwa anak kita tidak akan kehilangan cinta kita dengan kehadiran orang lain. Ini akan membuat anak percaya diri dan belajar mengerti. 

Entry Filed under: Uncategorized

One Comment Add your own

  • 1. sony  |  November 8, 2007 at 9:27 pm

    Benar bu…

    Anak saya 2 orang, yang pertama laki2 4 th kedua perempuan 1,5 th…

    Waktu-waktu mulai bundanya pulang dari kantor sampai tidur adalah waktu2 mereka rebutan perhatian bundanya…

    Abinya nggak laku waktu2 itu😦

    He..he..he…

    Salam kenal

    Sony


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: